Gambaran Karakteristik Ibu Hamil Dengan Preeklampsia di RSU

•Agustus 23, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Diperkirakan di dunia setiap menit perempuan meninggal karena komplikasi yang terkait dengan kehamilan dan persalinan, dengan kata lain 1400 perempuan meninggal setiap harinya atau lebih kurang 500.000 perempuan meninggal setiap tahun karena kehamilan dan persalinan (Sarjito, 2009).

Salah satu penyebab morbiditas dan mortilitas ibu dan janin adalah preeklampsia (PE) yang menurut WHO angka kejadiannya berkisar antara 0,51%-38,4% (Amelda, 2006).

Preeklampsia merupakan kondisi khusus dalam kehamilan, ditandai dengan peningkatan tekanan darah (TD) dan proteinuria. Bisa berhubungan dengan dengan kejang (eklampsia) dan gagal organ ganda pada ibu, sementara komplikasi pada janin meliputi restriksi pertumbuhan dan abrupsio plasenta (Vickey, 2006).

Preeklampsia ataupun hipertensi yang sering terjadi pada kehamilan beresiko terhadap kematian janin dan ibu. Deteksi dini untuk hipertensi pada ibu hamil diperlukan agar tidak menimbulkan kelainan serius dan mengganggu kehidupan serta kesehatan janin di dalam rahim, kelainan hipertensi dalam kehamilan dibagi menjadi 4 kategori, yakni : Hipertensi Kronis, Preeklampsia dan Eklampsia, Preeklampsia Imposed Hipertensi Kronis dan Gestational Hypertension. Kenaikan tekanan darah (TD) secara tiba-tiba setelah kehamilan 2 minggu inilah yang disebut dengan preeklampsia. Preeklampsia terjadi kira-kira 5% dari seluruh kehamilan, dan 10% pada kehamilan pertama kali (Novia, 2009).

Di negara maju angka kejadian preeklampsia berkisar 6-7% dan eklampsia 0,1-0,7%, sedangkan angka kematian ibu ynag diakibatkan preeklampsia dan eklampsia di negara berkembang masih tinggi. Preeklampsia salah satu sindrom yang dijumpai pada ibu hamil di atas 20 minggu terdiri dari hipertensi dan proteinuria dengan atau tanpa edema (Amelda, 2009).

Kematian ibu di Indonesia merupakan peringkat tertinggi di negara ASEAN, yang mana diperkirakan sedikitnya 18.000 ibu meninggal setiap tahun, karena kehamilan atau persalinan. Hal ini berarti setiap setengah jam seorang perempuan meninggal karena kehamilan atau persalinan, yang mengakibatkan setiap tahun 36.000 balita menjadi anak yatim. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 menyebutkan angka kematian ibu di Indonesia 396 per 100.000 kelahiran hidup. Departemen Kesehatan menargetkan tahun 2010 angka kematian ibu turun menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup. Dari jumlah kematian ibu prevalensi paling besar adalah preeklampsia dan eklampsia sebesar 12,9% dari keseluruhan kematian ibu (Siswono, 2003).

Di Sumatera Utara dilaporkan bahwa kasus preeklampsia terdapat 30 kasus khususnya di RSUP. H. Adam Malik Medan, Medan di Tahun 2005-2006 sementara di RSU. dr. Pirngadi Medan dilaporkan angka kematian ibu penderita preeklampsia di tahun 1985-1989 adalah 3,45% dan pada tahun 1989-1999 adalah 2,1% dan di tahun 1999-1997 adalah 4,65% (Rossa, 2006).

Setelah peneliti melakukan survei di tempat penelitian yaitu RSU. Dr. F.L. Tobing Sibolga didapatkan penderita eklampsia sebesar 34 orang dari tahun 2007-2008.

Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk melaksanakan penelitian dengan judul “Gambaran Karakteristik Ibu Hamil Dengan Preeklampsia di RSU. ……..

Gambaran Pengetahuan Petugas Kesehatan Tentang Mutu Pelayanan Kesehatan di Puskesmas

•Agustus 23, 2009 • 2 Komentar

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Tujuan Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010 dalah meningkat kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal melalui terciptanya masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dengan perilaku dan dalam lingkungan yang sehat, memiliki derajat kesehatan yang optimal diseluruh wilayah Republik Indonesia, Dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, upaya kesehatan, upaya kesehatan dilaksanakan secara merata, dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, sehubungan dengan itu puskesmas sebagai unit palayanan kesehatan terdepan dengan mutu yang lebih baik dan dengan biaya yang terjangkau oleh masyarakat (Depkes RI, 2002).

Pelayanan kesehatan yang bermutu masih dari harapan masyarakat serta berkembangnya kesadaran akan pentingnya mutu, maka UU kesehatan Nomor 23 tahun 1992 meningkatkan pentingnya mutu pelayanan kesehatan, khususnya di tingkat puskesmas (Nadesul, 2008).

Pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) adalah organisasi fungsional yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata, dapat diterima dan terjangkau oleh masyarakat dan menggunakan hasil pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna, dengan biaya yang dapat dipikul oleh pemerintah dan masyarakat. Upaya kesehatan tersebut menyelanggarakan dengan menitik beratkan kepada pelayanan untuk masyarakat luas mencapai derajat kesehatan yang optimal, tanpa pengambilan mutu pelayanan kepada perorangan. Pengelolaan puskesmas biasanya berada dibawah Dinas kesehatan kabupaten dan kota (Nadesul, 2008).

Pada tahun 1980-an, pusat pelayanan kesehatan terlihat sangat ramai dikunjungi pasien yang hendak berobat, yang kini feromena itu jarang terjadi. Sebagai pusat pelayanan kesehatan masyarakat, mestinya puskesmas dapat menjadi tempat rujukan pertama dengan pelayanan prima yang dapat mengalami berbagai masalah kesehatan yang terjadi pada masyarakat, dan yang lebih fatal dimana petugas puskesmas tidak begitu tanggap dengan pelayanan medik, tetapi tubuh menekankan administrasi (Nadesul 2008).

Banyak masalah yang menjadi pemicu rendahnya pencitraan puskesmas pada saat sekarang. Sarana yang tidak lengkap seperti obat-obatan yang kurang bermutu dari seri varial, petugas yang kurang tanggap dengan pasien, keramahan yang kurang dari pemberian palayanan, sehingga masyarakat kurang puas setiap berobat ke pusat pelayanan, kesehatan ini. Disampaikan itu program puskesmas yang kurang berjalan menjadi pemicu rendahnya mutu pelayanan puskesmas di mata masyarakat (Nadesul, 2008).

Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana pengetahuan petugas kesehatan tentang mutu pelayanan kesehatan di Puskesmas ….

Gambaran Pengetahuan Narapidana Tentang Dampak Penyalahgunaan Narkoba

•Agustus 23, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Narkoba merupakan obat terlarang istilah yang digunakan masyarakat dan aparat penegak hukum untuk bahan/obat termasuk kategori berbahaya atau dilarang digunakan, diproduksi, dipasok, diperjualbelikan, diedarkan dan sebaiknya di luar ketentuan hukum.

Narkoba atau NAPZA merupakan bahan/zat yang bila masuk ke dalam tubuh terutama susunan syaraf pusat/otak sehingga bilamana disalahgunakan akan menyebabkan gangguan fisik, psikis/jiwa dan fungsi sosial (Lidya Harlina, 2008).

Narkoba dapat merusak fisik ataupun psikis, dan akan mengalami kemunduran fungsi tubuh dan sistem kekebalannya. Penyalahgunaan narkoba berkaitan erat dengan peredaran gelap sebagi bagian dari kejahatan internasional. Mata perdagangan gelap memasok narkoba, agar orang memiliki ketergantungan, sehingga jumlah suplai meningkat. Terjalin hubungan antara pengedar/bandar dan korban. Korban sulit melepaskan diri dari mereka, bahkan jarang mereka terlibat peredaran gelap, karena meningkatnya kebutuhan akan narkoba.

Menurut WHO sekitar 22.000 orang setiap tahun meninggal dunia akibat mengkonsumsi berbagai obat-obatan yang tergolong narkoba dan dari penyalahgunaan narkoba, NAPZA jenis Opiat (heroin) ditemukan angka kematian (Mortality rate) mencapai angka 17,3% (Zainal, 2008).

Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebutkan dalam lima tahun terakhir jumlah kasus tindak pidana narkoba di Indonesia rata-rata naik 51,3 persen atau bertambah sekitar 3.100 kasus per tahun. Kenaikan tertinggi terjadi pada tahun 2003 sebanyak 16.252 kasus atau naik 93 persen dari tahun sebelumnya, di tahun yang sama tercatat 48 ribu orang tersangka kasus tindak pidana narkoba dan pada tahun 2008 kasus ini naik menjadi 101,2 persen (Tanjung Mastar Ain, 2008).

Khusus di DKI Jakarta, kenaikan kasus narkoba tahun 2008 mencapai 800 kasus, data tersebut adalah kasus yang diitangani keperawatan/  kepolisian, sedangkan kasus yang lepas dari penanganan belum diperkirakan besarnya (Tanjung Mastar Ain, 2008).

Depresi yang diakibatkan oleh narkoba 1,5 sampai 12% penderita depresi akibat narkoba (FKUI) dan orang yang mengalami depresi mempunyai resiko relatif (Estimated relative risk) 18,8 terlibat penyalahgunaan/ketergan-tungan NAPZA dibandingkan dengan orang tanpa kecemasan (Hawari, 2007).

Keadaan keluarga yang tidak kondusif atau dengan kata lain disfungsi keluarga mempunyai resiko relatif (Estimated relative risk) 7,9 bagi anak /remaja terlibat penyalahgunaan ketergantungan NABZA dibandingkan dengan anak/remaja yang didik dalam keluarga yang sehat dan harmonis  (kondusif) (Rutter, 1983) dan ketidakutuhan keluarga (Broken home by death) mempunyai pengaruh 26,7% pada anak/remaja terlibat penyalahgunaan/ ketergantungan NAPZA (Hawari, 2007).

Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS), jumlah persentase angka putus sekolah atau mengulang sekitar 16,5% pada anak usia 13-15 tahun, artinya angka putus sekolah di Indonesia untuk tingkat Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah sebanyak 684.967 anak. Tahun lalu jumlahnya lebih banyak yaitu 702.066 siswa paling sering menimbulkan kematian akibat overdosis (Kausar, 2004).

Menurut survey nasional pada tahun 2008, pelaku penyalahgunaan NAPZA di Indonesia sebanyak 6% atau sekitar 13 juta orang telah menggunakan ganja (Maffuzh, 2008).

Solusi bagi pengguna aktif biasanya sangat susah, butuh bantuan  obat-obatan medis. Bila pemakai aktif (ketergantungan), cobalah berkonsultasi ke dokter atau ke pusat rehabilitasi. Tetapi kalau bukan pemakai aktif bisa dengan cara yaitu pendekatan agama, dengan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Berdasarkan hasil survey pendahuluan di Lembaga Permasyarakatan Kelas II-A Sibuluan I Tahun 2008 Kab. Tapanuli Tengah, Narapidana yang ditahan karena menggunakan narkoba berjumlah 72 orang dan tahanan narkoba yang masih dalam proses berjumlah 48 orang (Lembaga Permasyarakatan Sibuluan I, 2008)

Berdasarkan dari uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengetahui “Bagaimanakah Gambaran Pengetahuan Narapidana Tentang Dampak Penyalahgunaan Narkoba di Lapas Kelas II-A Sibuluan……

Selanjutnya  hub adminsitrator

Gambaran Pengetahuan Tentang Perawatan Bayi Prematur

•Agustus 23, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bayi prematur adalah bayi yang lahir dengan usia gestasi kurang dari dan sama dengan 37 minggu dengan berat badan lahir rendah yaitu kurang dari 2500 gram (Surasmi, 2003). Di negara maju seperti Amerika Serikat, kelahiran bayi prematur terus meningkat per tahunnya, di Indonesia kelahiran bayi prematur justru diikuti kematian si bayi, kelahiran  bayi prematur tidak bisa diabaikan begitu saja.

Sejak tahun 1961 WHO (World Health Organization) telah mengganti istilah prematur dengan bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) atau Low Birth Weight Baby. Hal ini dilakukan karena tidak semua bayi dengan berat kurang dari 2500 gram pada lahir waktu lahir disebut bayi prematur. Seorang bayi prematur belum berfungsi seperti bayi matur, oleh sebab itu bayi akan banyak mengalami kesulitan untuk hidup diluar uterus ibunya (Prawirohardjo, 2004)

Setiap tahun diperkirakan bayi lahir sekitar 350.000 bayi prematur atau berat badan lahir rendah di Indonesia. Tingginya kelahiran bayi prematur tersebut karena saat ini 30 juta perempuan usia subur yang kondisinya kurang energi kronik dan sekitar 80% ibu hamil menjalani anemia difisiensi gizi. Tingginya yang kurang gizi mengakibatkan pertumbuhan janin terganggu sehingga beresiko lahir dengan berat badan di bawah 2500 gram (Manuaba, 2003).

Bayi yang lahir dengan berat badan yang rendah rentan mengalami berbagai komplikasi, baik sesaat setelah dilahirkan dan dikemudian hari, jika tidak langsung mendapat perawatan yang tepat, inilah yang banyak dikhawatirkan para ibu, terutama yang tengah menanti kelahiran si bayi, tidak ada cara pasti untuk benar-benar mencegah kelahiran bayi prematur.

Bayi prematur membutuhkan dukungan nutrisi yang khusus oleh karena derajat imaturitas biokomianya yang tinggi, laju pertumbuhannya yang cepat dan dapat terjadi insiden komplikasi medik yang lebih besar. Bayi yang lahir prematur juga harus diberi vaksinasi agar terhindar dari penyakit menular mematikan. Pemberian imunisasi ini harus dikonsultasikan lebih dulu dengan dokter, demikian juga dengan pemberian makan semi padat  (Muchtar, 2004).

Untuk bayi yang lahir secara prematur dengan berat badan diatas 2000 gram, anak sudah bisa mendapatkan ASI dari si Ibu, tetapi juga ada bayi yang belum bisa menyerap ASI, saluran cerna yang belum matang juga akan menimbulkan dampak pada bayi prematur. Bayi prematur diharuskan dibuat di inkubator, karena bayi tersebut seharusnya masih berada di dalam kandungan dengan segala kenyamanannya berjuang beradaptasi dengan dunia luar. Inkubator untuk menjaga suhu bayi supaya tetap stabil, akibat sistem pengaturan suhu dalam tubuh bayi prematur belum sempurna, maka seharusnya bisa naik dan turun secara drastis. Ini tentu bisa membahayakan kondisi kesehatannya. Selain itu otot-ototnya pun relatif lebih lemah, sementara cadangan lahir cukup bulan (Muchtar, 2004).

Masalah yang harus dihadapi oleh semua bayi neonatal terhadap lebih banyak pada bayi prematur misalnya, mereka membutuhkan oksigen tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan bayi yang cukup umur, karena  pusat pernafasan belum sempurna. Bayi prematur memerlukan pemberian makanan yang khusus dengan alat penetes obat atau pipa karena refleks menelan dan menghisap yang lemah. Kehangatan bayi prematur harus diperhatikan diperlukan peralatan khusus untuk memperoleh suhu yang hampir sama dengan suhu dalam rahim (Hurlock, 2002).

Selama bayi berada di rumah sakit dan di bawah perawatan dokter, Bidan dan Perawat, orang tua tidak terlampau khawatir tentang ketidak berdayaannya, akan tetapi bila bayi sudah dibawa pulang dan orang tua bertanggung jawab atas perawatannya, maka ketidakberdayaan bayi menjadi bahaya psikologi yang hebat.

Berdasarkan hasil survey lapangan yang dilakukan peneliti di RSU. F.L. Tobing Kota Sibolga Tahun 2008/2009 jumlah bayi prematur 55 orang dan bayi prematur yang tinggal bersama keluarga sebannyak 48 orang di RSU. F.L. Tobing Kota Sibolga Tahun 2008/2009.

Dari survey awal di dapat dari rekam medik RSU. F.L. Tobing Kota Sibolga Tahun 2008 terdapat 36 kasus bayi prematur dan sudah 10 orang diantaranya meninggal dunia.

Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Gambaran Pengetahuan Tentang Perawatan Bayi Prematur di RSU...

 

gambaran pengetahuan ibu tentang infertilitas

•Agustus 23, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Infertilitas (kemandulan) merupakan masalah kesehatan, dimana pasangan suami istri tidak mengetahui kalau pasangannya mengalami infertilitas dan penyebab terjadinya infertilitas. Infertilitas ini membutuhkan perhatian di seluruh dunia maupun di Indonesia, karena banyaknya pasangan infertil di Indonesia khususnya pada wanita yang pernah kawin tapi tidak mempunyai anak. Sedangkan di negara-negara maju seperti Amerika, Jepang ditemukan kasus infertil baik dari laki-laki maupun perempuan sekitar 80% jumlah pasangan infertil diperoleh ± 400 juta pasangan (Siswono, 2003).

Faktor-faktor organik/psikologi merupakan penyebab terjadinya infertilitas karena kekakuan yang berlebihan (emotion stress) dapat juga menurunkan kesuburan wanita. Selain itu pendapat umum mengatakan bahwa ketegangan jiwa/kecemasan dapat menyebabkan spasmus di daerah antara uterus dan tuba (utero-tubal junction). Di negara Jugoslavia ditemukan 678 kasus dengan keluhan sterilias, 544 kasus (81,6%) disebabkan oleh kelainan organik, dan 124 kasus (18,4%) disebabkan oleh faktor penanggulangan infertilitas dan subfertilitas yang mempunyai kadar psikologi sebaiknya dilakukan dengan pendidikan psikologi (Prawirohardjo, 2003).

Saat ini diketahui diketahui bahwa sekitar 10% pasangan usia subur yang telah menikah menderita infertilitas primer, 10% lainnya mengalami infertilitas sekunder, yaitu ketidakberhasilan untuk hamil lagi setelah mempunyai satu atau dua anak. Dalam masalah infertilitas pasangan ini, diketahui bahwa 64% penyebabnya datang dari pihak istri, yaitu 15% karena tuba, 21% karena ovulasi, 8% karena endometrosis, 8% karena masalah vagina, serviks, korpus dan endometrium, 8% psikogenetik, dan 15-20% penyebabnya tidak diketahui (idiopatik), 16% penyebab yang multifaktorial dari suami maupun istri (Henderson, 2006).

Menurut Worlth Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa jumlah pasangan infertilitas sebanyak 36% diakibatkan adanya kelainan pada si ayah, sedangkan 64% berada pada si ibu. Halini di alami 17% pasangan yang sudah menikah lebih dari 2 tahun belum mengelami tanda-tanda kehamilan bahkan sama sekali pernah hamil.

Beberapa daerah di Indonesia, wanita seringkali disalahkan menjadi penyebab infertilitas yang tidak bisa hamil. Padahal, masalah infertilitas dapat berasal dari pihak laki-laki, perempuan ataupun interaksi keduanya. Menurut penelitian PERSI di Jakarta, 36% infertilitas diakibatkan adanya kelainan pada si ayah, sedangkan 64% ada pada si ibu.

Pada tahun 1985 diperoleh data jumlah infertilitas di Indonesia sebanyak 12% pasangan, jumlah ini sama dengan 3 juta pasangan menikah, dari jumlah tersebut 10% mengalami infertilitas primer, atau belum terjadi kehamilan walaupun pasangan tersebut mengalami bersenggama teratur dan dihadapkan pada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan berturut-turut. 10% lainnya akibat infertilitas primer, atau belum berhasil lagi untuk hamil, umumnya 32,7% hamil dalam satu bulan 57% hamil dalam 3 bulan, 72,1% hamil dalam waktu 6 bulan, 85% dalam 12 bulan, dan 93,4% dalam 24 bulan (Robert, 2003).

Pada bulan April-Mei  2009 di Desa Poriaha Julu Kecamatan Tapian Nauli III ditemukan jumlah pasangan yang menderita infertilias sebanyak 35 orang dari lingkungan Desa Poriaha Julu yang jumlah penduduknya sekitar 924 rumah tangga.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengetahui “Bagamanakah gambaran pengetahuan ibu tentang infertilitas di Desa Poriaha Julu Kecamatan Tapian Nauli III Tahun 2009”.

Karakteristik ibu bersalin dengan ekstraksi vakum di Klinik

•Agustus 23, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Di dalam Rencana Strategi Nasional Making Pregnancy Safer di Indonesia 2001-2010 disebut bahwa dalam Rencana Pembangunan Kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010, Making Pregnancy Safer mempunyai misi dan visi untuk mencapai Indonesia sehat 2010. Visi Making Pregnancy Safer adalah semua perempuan di Indosenia dapat menjalani kehamilan dan persalinan dengan aman dan bayi dilahikan hidup sehat. Sedangkan misinya adalah menurunkan kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir melalui pemantapan sistem kesehatan untuk menjamin ASKES terhadap intervensi yang cost-effective berdasarkan bukti ilmiah yang berkualitas, memberdayakan wanita, keluarga dan masyarakat dan mempromosikan kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang lestari sebagai suatu prioritas dalam program pembangunan nasional. Dan tujuan Making Pregnancy Safer adalah menurunkan kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir di Indonesia (Depkes RI, 2001).

Ekstraksi vakum merupakan tindakan untuk melahirkan bayi.dengan ekstraksi menggunakan tekanan negatif dengan alat vakum.

Tehnik melahirkan bayi menggunakan alat vakum yang telah diperkenalkan sejak tahun 1840 oleh Simpson, dan model alat ini terus berubah demi mengurangi resiko pada bayi yang diperkenalkan Malmstrom tahun 1954.alat ekstraksi vakum dibuat dalam 2 bentuk. Ada yang terbuat dari bahan  stainless dan silastic yang masing-masing punya keunggulan.Prinsip kerja alat ekstraksi vakum adalah dengan memberikan tekanan negatif, sehingga akan membentuk kaput dikulit kepala bayi yang berguna sebagai tempat tarikan saat ibu mengejan (Cuningham F, 2002).

Adanya beberapa faktor ibu maupun janin menyebabkan tindakan ekstraksi vakum dilakukan yaitu ketidakmampuan mengejan, keletihan, penyakit jantung, section secarea pada persalinan sebelumnya, kala II yang lama, dan posisi janin oksiput posterior atau oksiput transverse menyebabkan persalinan tidak dapat dilakukan secara normal. Maka perlu tindakan ekstraksi vakum. Ekstraksi vakum dapat mengakibatkan terjadinya toleransi pada servik uteri dan vagina ibu sehingga mengakibatkan perdarahan yang dapat meningkatkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Disamping itu terjadi laserasi pada kepala janin yang dapat mengakibatkan pendarahan intrakranial.(Depkes RI,2005)

Menurut data WHO, sebanyak 99% kematian ibu akibat masalah persalinan atau kelahiran yang terjadi di negara-negara berkembang. Rasio kematian ibu di Negara-negara bekembang merupakan yang tertinggi dengan 450 kematian ibu per 100.000 kelahiran bayi hidup jika dibandingkan dengan rasio kematian ibu di sembilan negara maju dan 51 negara persemakmuran.

Dr. Ieke menegaskan bahwa 90% kematian ibu di Indonesia disebabkan oleh pendarahan (30%), infeksi (12%), eklampsia (25%), partus lama (11%), komplikasi abortus (12%) dan penyebab lainnya (Depkes RI, 2001)

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI)  tahun 2002 menunjukkan bahwa terdapat peningkatan AKI dari 307 menjadi 390 per 100.000 kelahiran hidup (Depkes RI, 2005).

persalinan yang didapat dari WHO kejadian ekstraksi vakum berkisar antara 38% dan pervaginam berkisar 62% pada presentase belakang-kepala. Sekalipun kejadian kecil tetapi mempunyai penyulit yang besar dengan angka kematian ibu 90% disebabkan oleh perdarahan yaitu (Mochtar 1998) atonia uteri 50% – 60 %, retensio plasenta 16% -17 %, laserasi jalan lahir 4% – 5%, kelainan darah 0,5% – 0,8%, infeksi, partus lama dan komplikasi lain (Depkes RI, 2002).

Alasan pemilihan alat ekstraksi vakum (alat bantu persalinan pervaginam) adalah untuk menghindari tingginya angka operasi caesar yang sudah membutuhkan biaya relatif lebih besar dan resiko dari tindakan operasi terhadap ibu bila dibandingkan dengan tindakan ekstraksi vakum, selain itu komplikasi yang terjadi pada partus buatan dengan ekstraksi vakum biasanya timbul akibat terlalu lama dan terlalu kuatnya tarikan kadang juga operator sering  menemukan kendala dari pihak keluarga akibat sikap keluarga yang tidak siap operasi dan meminta dokter untuk mencoba tetap lahir pervaginam.

Berdasarkan penelitian  pada periode 01 Januari – 31 Mei 2009 di Klinik Yoshua Lubuk Pakam ditemukan kasus ekstraksi vakum sebanyak 67 (19,6%) dari 341 jumlah ibu bersalin.

Sebagian kasus ekstraksi vakum yang ditolong di Klinik Yoshua adalah partus lama (55%), dan sebagian terbesar adalah kiriman bidan dengan angka tertinggi primigravida (66,5%).

Berdasarkan data dan penjelasan diatas maka penullis tertarik mengetahui “Karakteristik ibu bersalin dengan ekstraksi vakum di Klinik Yoshua Lubuk Pakam periode 01 Januari – 31 Mei 2009.

 

Gambaran Pengetahuan Kepala Keluarga Tentang Katarak

•Agustus 23, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Katarak merupakan masalah nasional yang perlu ditanggulangi. katarak dapat menyebabkan penurunan aktivitas dimana katarak merupakan penyebab umum kehilangan pandangan secara bertahap. Berdasarkan peneletian tahun 1989-1999, lebih dari separuh (54%) kebutuhan disebabkan katarak (Bougman, 2000).

Katarak merupakan kelainan mata yang terjadi akibat adanya perubahan lensa yang jernih dan tembus cahaya, sehingga keruh. Akibatnya   mengalami gangguan penglihatan karena obyek menjadi kabur. Ganguan penglihatan yang terjadi tidak secara spontan. Melainkan secara perlahan dan dapat menimbulkan kebutaan. Meski tidak menular, namun katarak dapat terjadi di kedua mata secara bersama (Rahmi, 2008).

Menurut data organisasi kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO) dapat 50 juta kebutaan di dunia akibat katarak dan yang paling banyak adalah mereka yang tinggal di negara miskin dan berkembang yaitu Asia dan Afrika. Penduduk yang tinggal dinegara berkembanag beresiko 10 kali lipat mengalami kebutaan dibandingkan  penduduk negara maju. Sedangkan menurut Institute Kesehatan Nasional atau National Institute of Health (NIH) di negara maju seperti Amerika Serikat terdapat 4 juta orang beresiko menjadi buta karena proses kemunduran mascular (titik kuning retina) yang berhubungan dengan faktor usia sehingga pada akhirnya menyebabkan kebutaan, sebagai perbandingan di Banglades angka kebutaan mencapai 1%, di India 0,1 -0,3%.

Tingkat kebutaan yang diakibatkan katarak di Indonesia merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara, yaitu sebesar 1,5% sedangkan dalam catatan WHO, tingkat kebutaan di Indonesia berada diurutan ketiga di dunia yaitu sebesar 1,47%. Tingginya katarak di Indonesia dipengaruhi oleh letak geografis yang berada di daerah garis khatulistiwa sehingga berdasarkan penelitan menilai resiko 15 tahun lebih cepat terkena katarak dibanding penduduk di Eropa (Rahmi,2008).

Katarak tidak dapat dicegah kecuali pada kebutaannya yaitu dengan tindakan  operasi. Katarak merupakan penyakit degenaratif namun saat ini katarak juga telah ditemukan pada usia muda (35-40 tahun). Selama ini katarak dijumpai pada orang yang berusia diatas 55 tahun sehingga sering diremehkan kaum muda. Hal ini disebabkan kurangnya asupan Gizi dan nutrisi yang dibutuhkan tubuh (Irawan, 2008).

Kebutaan yang terjadi akibat katarak akan terus meningkat karena penderita katarak tidak menyadarinya, daya penglihatan baru terpengaruh setalah katarak berkembang sekitar 3-5 tahun dan menyadari penyakitnya setelah memasuki stadium kritis. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan mengenai gejala katarak. Salah satu penyebab tingginya kasus kebutaan yang diakibatkan oleh katarak karena kurangnya perhatian masyarakat terhadap kesehatan mata.

Dari data yang diperoleh dipoliklinik mata RSU Dr. F.L Tobing Sibolga pada tahun 2008/2009 penderita katarak berjumlah 72 orang, yang telah dioperasi berjumlah 27 orang sedangkan yang tidak dioperasi 45 orang dikarenakan oleh faktor ekonomi (RSU F.L Tobing Sibolga)

Berdasarkan hasil survey yang didapatkan dari dokumentasi dan arsip Lurah Aek Manis Sibolga bahwa jumlah KK 1139 dan yang menderita katarak 34 orang (Profil Kelurahan Aek Manis, 2009).

Dari uraian diatas penulis tertarik untuk mengetahui “Bagaimana Gambaran Pengetahuaan Kepala Keluarga Tentang Katarak Di Kelurahan Aek Manis Kota Sibolga tahun 2009 “

 

 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.