KTI

Pre-eklamsia sebagai salah satu penyakit yang sering dijumpai pada ibu hamil dan masih merupakan salah satu penyebab kematian ibu. Di Amerika Serikat 1/3 dari kematian ibu disebabkan oleh pre-eklamsia. Komplikasi akibat kelainan hipertensi pada kematian secara konsisten dicantumkan diantara tiga penyebab yang lazim pada kematian ibu disemua negara-negara maju. Insiden yang dilaporkan bergantung pada kriteria diagnosis, dan kekurangan yang berbeda dari kesengajaan. Masih tinggi angka kematian ibu hamil dan melahirkan merupakan tantangan yang belum dapat diatasi di Indonesia berkaitan dengan 10 tahun kesepakatan Internasional Pembangunan Kependudukan (ICPD). Yang telah ditandatangani 179 negara termasuk di Indonesia.

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Di dunia setiap ini seorang perempuan meninggal karena komplikasi yang terikat dengan kehamilan dan persalinannya, atau 1400 perempuan meninggal setiap tahun karena kehamilan dan persalinan sekitar 99% dari kematian ibu dan anak akan balita di negara miskin terutama Afrika dan Asia Selatan.

Pre-eklamsia sebagai salah satu penyakit yang sering dijumpai pada ibu hamil dan masih merupakan salah satu penyebab kematian ibu. Di Amerika Serikat 1/3 dari kematian ibu disebabkan oleh pre-eklamsia. Komplikasi akibat kelainan hipertensi pada kematian secara konsisten dicantumkan diantara tiga penyebab yang lazim pada kematian ibu disemua negara-negara maju. Insiden yang dilaporkan bergantung pada kriteria diagnosis, dan kekurangan yang berbeda dari kesengajaan. Masih tinggi angka kematian ibu hamil dan melahirkan merupakan tantangan yang belum dapat diatasi di Indonesia berkaitan dengan 10 tahun kesepakatan Internasional Pembangunan Kependudukan (ICPD). Yang telah ditandatangani 179 negara termasuk di Indonesia.

Indonesia termasuk angka yang tertinggi dan merupakan indikator derajat kesehatan tertingi di ASEAN, yakni 307 per 100.000 orang tantangan yang harus dihadapi bersama-sama.

Angka kematian ibu melahirkan dan bayi di Indonesia meningkat pada lima tahun terakhir. Masalah besar ini diyakini tak akan teratasi tanpa kesadaran dan peran kuat dari para pembuat kebijakan, aparat pemerintahan pusat dan daerah, komunitas medis, dan masyarakat sendiri. Data Survey Kesehatan Ibu dan Anak (SKIA) 2000 menunjukkan umur median kehamilan pertama diindonesia adalah 18 tahun dan sebanyak 46 % perempuan mengalami kehamilan pertama dibawah usia 20 tahun. Salah satu penyebab kematian perinatal adalah pre-eklamsia (PE) dan eklamsia (E). Pre-eklamsia merupakan penyebab kematian ibu yang penting disamping sepsis dan perdarahan. Pre-eklamsia dapat diklasifikasikan sebagai hipertensi yang diinduksi kehamilan. Keadaan ini ditandai oleh hipertensi, oedema, dan proteinuria pada pre-eklamsia, diikuti dengan kejang atau koma pada eklamsia.

Ibu hamil yang mengalami pre-eklamsia 0-5 % berlanjut menjadi eklamasia kematian janin dengan pre-eklamsia sekitar 10 % dan kurang waktu eklamasia sekitar 20 % ( Hamlton, 2003).

Pemeriksaan ante natal care (ANC) dilakukan sekurang- kurangnya 4 kali selama wanita hamil, melalui ANC dapat beresiko tinggi misalnya tekanan darah tinggi. Ibu bersalin pada usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun kehamilan.

Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk melaksanakan penelitian dengan judul kasus Pre-eklamsia Ibu Bersalin di RSU. F.L. Tobing Sibolga Tahun 2007.

B. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat ditemukan rumusan masalah adalah gambaran kasus pada pre-eklamsia pada Ibu bersalin.

C. TUJUAN PENELITIAN

C.1. Tujuan Umum

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kasus pre-eklamsia pada ibu bersalin di RSU. F.L. Tobing Sibolga Tahun 2007.

C.2. Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui Gambaran kasus pada pre-eklamsia ibu bersalin berdasarkan umur di RSU F. L Tobing Sibolga Tahun 2007.

2. Untuk mengetahui Gambaran kasus berdasarkan paritas di RSU F.L. Tobing Sibolga Tahun 2007.

3. Untuk mengetahui distribusi kasus preeklamsia berdasarkan usia kehamilan di RSU F. L Tobing Sibolga Tahun 2007.

D. MANFAAT PENELITIAN

D.1. Bagi Peneliti

Sebagai pengalaman yang berharga serta menambah pengetahuan bagi penulis riset keperawatan.

D.2. Bagi Instansi Pendidikan

Sebagai bahan Referensi di perpustakaan bagi instansi pendidikan mahasiswa D-III Keperawatan Nauli Husada Sibolga.

D.3. Bagi Ibu Bersalin

Sebagai gambaran yang menambah pre-eklamsia ibu bersalin yang mengalami penyakit pre-eklamsia di RSU F.L. Tobing Sibolga Tahun 2007.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. PRE-EKLAMSIA

A.1. Defenisi

Pre-eklamsia adalah :

Terjadinya peningkatan darah disertai proteinuria akibat kehamilan, terutama pada komplikasi primigravida, terjadi setelah usia gestasi 20 sampai 40 minggu, kecuali jika penyakit Tropoblastik (varney, 2002).

A.2. Etiologi

Sampai saat ini, etiologi pasti dari pre-eklamsia belum diketahui. Ada beberapa teori mencoba menjelaskan perkiraan etiologi dari kelainan tersebut diatas, sehingga kelainan ini sering dikenal sebagai the diseases of theory. Adapun teori –teori tersebut antara lain :

A.2.1. Peran Prostasiklin dan Tromboksan

Pada PE-E didapatkan kerusakan kerusakan pada endotel vaskuler, sehingga terjadinya penurunan produksi prostasiklin (PGI 2) yang pada kehamilan normal meningkat, Penyebab pre-eklamsia belum diketahui dengan pasti meskipun demikian penyakit ini lebih sering ditemukan pada wanita hamil yang :

1. Primigravida

2. Hyper plasentosis pada kehamilan, anak besar, mola hidatidosa, dan hirops fetalis.

A.3. Patofosiologi

Pada pre-eklamsia terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air pada biopsi ginjal ditemukan spasme hemat arterioral pada beberapa kasus lumen anrterioral sedemikian sempitnya sehingga hanya dapat dilalui oleh sel darah merah.

A.4. Klasifikasi

Pre-eklamsia digolongkan kepada pre-eklamsia ringan dan pre-eklamsia berat dengan gejala dan tanda-tanda sebagai berikut:

a. Pre-eklamsia ringan

1. Tekanan darah sistolik 140 atau kenaikan 30 mmHg dengan interval pemeriksaan 6 jam

2. Tekanan darah diastolik 90 atau kenaikan 15 mmHg dengan interval pemeriksaan 6 jam

3. Kenaikan berat badan I kg atau lebih dalam seminggu

4. Proteinuria 0,3 gr atau lebih dengan tingkat kwalitatif

b. Pre-eklamsia berat

Bila salah satu diantara gejala atau tanda ditemukan pada ibu hamil sudah dapat digolongkan pre-eklamsia berat.

1. Tekanan darah 160/110 mmHg

2. Oliguria, urin kurang dari 400 cc/24 jam

3. Proteinuria lebih dari 3 gr/liter

4. Keluhan subjektif

Nyeri epigastrium

Gangguan penglihatan

Nyeri kepala

Edema paru dan sianosis

Gangguan kesadaran

5. Pemeriksaan

Kadar enzim hati meningkat disertai ikterus

Perdarahan pada retina

Trombosit kurang dari 100.000/mm (Manuaba, IGB)

A.5. Komplikasi

Komplikasi yang terberat adalah kematian ibu dan janin. Komplikasi dibawah ini biasanya terjadi pada Preeklamsia berat dan eklamsia.

1. Solusio plasenta. Komplikasi ini terjadi pada ibu yang menderita hipertensi akut dan lebih sering terjadi pada Preeklamsia.

2. Hipofibrinogenemia. Pada Preeklamsia berat

3. Hemolisis. Penderita dengan Preeklamsia berat kadang-kadang menunjukkan gejala klinik hemolisis yang dikenal dengan ikterus. Belum diketahui dengan pasti apakah ini merupakan kerusakan sel-sel hati atau destruksi sel darah merah. Nekrosis periportal hati sering ditemukan pada autopsi penderita eklamsia dapat menerangkan ikterus tersebut.

4. Perdarahan otak. Komplikasi ini merupakan penyebab utama kematian maternal penderita eklamsia.

5. Kelainan mata. Kehilangan penglihatan untuk sementara, yang berlangsung sampai seminggu.

6. Edema paru-paru

7. Nekrosis hati. Nekrosis periportal hati pada Preeklamsia- eklamsia merupakan akibat vasopasmus arteriol umum.

8. Sindrom HELLP yaitu haemolysis,elevated liver enzymes, dan low platelet.

9. Kelainan ginjal

10. Komplikasi lain. Lidah tergigit, trauma dan fraktura karena jatuh akibat kejang- kejang pneumonia aspirasi.

11. Prematuritas, dismaturitas dan kematian janin intra- uterin.

(Rahmi, 2008)

A.6. Pencegahan

Adapun Pencegahan pre-eklamsia adalah :

  1. Pemeriksaan antenatal yang teratur dan bermutu serta teliti, mengenali tanda-tanda sedini mungkin (Pre-eklamsia ringan), lalu diberikan pengobatan yang cukup supaya penyakit tidak menjadi lebih berat.
  2. Harus selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya Pre-eklamsia kalau ada faktor- faktor prediposisi.
  3. Penerangan tentang manfaat istirahat dan dist berguna dalam pencegahan. Istirahat tidak selalu berarti berbaring ditempat tidur, namun pekerjaan sehari-hari perlu dikurangi, dan rendah lemak, kabohidrat, garam dan penambahan berat badan yang tidak berlebihan perlu dianjurkan.
  4. Mencari pada tiap pemeriksaan tanda-tanda preeklamsia dan mengobatinya segera apabila ditemukan.
  5. Mengakhiri kehamilan sedapat-dapatnya pada kehamilan 37 minggu ke atas apabila setelah dirawat tanda-tanda Preeklamsia tidak juga dapat dihilangkan. (Rahmi, 2008).

B. PENGOBATAN / PENATALAKSANAAN

Sedati = Phenobarabital 3 x 20 gr

Menghindari sulfat

a. Magnesium Sulfat

Inisial dosis 20 mgr IV, dosis ikutan 20 mgr ( drip 20 tetes/ menit)

Dosis maksimal 120 mgr/ 24 jam

b. Kombinasi

Pethidine 50 mgr 1 M

Klor promazim 50 mg 1 M

Diazepam ( Valium) 20 mgr 1 M

Anjuran Umum

1. Memasukkan kedalam ruangan bersalin untuk pemantauan yang dekat

2. Istirahat baring yang ketat dalam posisi miring ke samping dan lingkungan, yang sunyi.

3. Setelah keadan Pre-eklamsia berat dapat diatasi, pertimbangan mengakhiri kehamilan berdasarkan :

a. Kehamilan cukup bulan

b. Mempertahankan kehamilan sampai mendekati cukup bulan

c. Kegagalan pengobatan Pre-eklamsia berat kehamilan diakhiri tanpa memandang umur

d. Merujuk penderita kerumah sakit untuk pegobatan yang ade kuat mengakhiri kehamilan merupakan pengobatan utama untuk memutuskan kelanjutan Pre- eklamsia ( Manuaba, 16 B)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Kerangka Konsep Penelitian

A.1. Kerangka Konsep

Kerangka konsep Penelitian Gambaran Kasus Ibu Bersalin di RSU F.L. Tobing Kota Sibolga Tahun 2007.

Variabel Independen Variabel Dependen

a. Umur

b. Paritas

c. Usia Kehamilan

Gambaran Kasus Pre-eklamsia pada Ibu bersalin

A.2. Defenisi Operasional

a.

Umur

:

Usia seseorang sejak dilahirkan sampai saat terjadinya Pre-eklamsia ( menurut yang tercatat di Medical Record)

a. 20 – 30 Tahun

b. 30 – 40 Tahun

c. 40 – 50 tahun

b.

Paritas

:

Jumlah persalinan yang pernah dialami ibu dikategorikan menjadi :

a. Umur

b. Paritas

c. Usia Kehamilan

c.

Usia kehamilan

:

Usia yang dihitung sejak hari pertama haid terakhir sampai terjadinya ibu mengalami masalah Pre- eklamsia, eklamsia dikategorikan menjadi :

a. Trimester I (0-12 minggu)

b. Trimester II (13-28 minggu)

c. Trimester III (28-34 minggu)

B. Jenis Penelitian dan Rancangan Penelitian

Jenis penelitian ini adalah bersifat deskriptif yaitu untuk megetahui gambaran kasus Pre–eklamsia pada ibu bersalin di RSU F.L.Tobing Sibolga Tahun 2007.

C. Lokasi dan waktu penelitian

C.1. Lokasi penelitian

Penelitian dilakukan di RSU. F.L. Tobing Sibolga Tahun 2007.dengan alasan :

a. Di RSU. F.L. Tobing Sibolga Tahun 2007 lebih banyak ibu bersalin ketimbang Puskesmas.

b. Ditemukan ibu bersalin dengan pre-eklamsia di RSU. F.L. Tobing Sibolga Tahun 2007.

c. Lokasi mudah dijangkau peneliti, dimana RSU. F.L. Tobing Sibolga tempat penelitian dekat dengan lokasi perkuliahan.

d. Data dapat diambil langsung dari Medical Record RSU. F.L. Tobing Sibolga sesuai dengan keadaan atau perawatan pasien.

C.2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian dilaksanakan mulai bulan Maret 2007 – Agustus 2008.

D. Populasi dan Sampel

D.1. Populasi

Adapun populasi pada penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin di Ruang Melati di RSU F.L. Tobing Sibolga Tahun 2007 yaitu sebanyak 31 orang.

D.2. Sampel

Adapun sampel dalam penelitian ini adalah total populasi

E. TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Data diambil dari data sekunder dengan metode yang diambil dari ibu penderita pre-eklamsia medical record di RSU F. L. Tobing Sibolga Tahun 2007.

F. Pengolahan dan Teknik Analisis Data

F.1. Teknik Pengolahan Data

a. Proses editing dengan melakukan pengecekan

Proses editing dengan melakukan pengecekan kelengkapan data pada data-data yang telah terkumpul, bila terdapat kesalahan atau kekurangan dalam pengumpulan data akan diperbaiki dengan memeriksanya dan dilakukan pendataan ulang.

b. Coding

Mengklarifikasikan jawaban menurut jenisnya dan memberikan kode tertentu untuk mempermudah pengolahan data.

c. Tabulating

Analisa dilakukan secara deskriptif dengan lengkap sesuai dengan variabel yang dibutuhkan lalu dimasukkan kedalam tabel- tabel distribusi frekuensi.

F.2. Analisis Data

Analisa data dilakukan secara deskriptif dengan melihat presentasi data yang telah dikumpul dan disajikan dalam tabel distribusi frekuensi.

Analisa data dilanjutkan dengan membahas hasil penelitian dengan menggunakan teori dan kepustakaan yang ada.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Setelah dilakukan pengumpulan data pengolahan dan analisa data tentang gambaran kasus preeklamsia di Rumah Sakit Umum Dr. F.L. Tobing Sibolga Tahun 2007 ditemukan penderita preeklamsia sebanyak 31 kasus. Karakteristik penderita preeklamsia pada ibu bersalin akan diuraikan pada tabel di bawah ini yaitu sebagai berikut :

Tabel A.1 : Distribusi penderita preeklamsia berdasarkan umur di Rumah Sakit Umum Dr. F.L. Tobing Sibolga Tahun 2007

No.

Umur (Thn)

Jumlah

Persentase

1.

20-35 tahun

27

87,10

2.

>35 tahun

4

12,90

Jumlah

31

100

Dari Tabel A.1 di atas diketahui bahwa kejadian preeklamsia mayoritas terjadi pada umur 20 – 35 tahun sebanyak 27 kasus (87,10%) dan minoritas ditemukan pada umur >35 tahun sebanyak 4 kasus (12,90%).

Tabel A.2 : Distribusi penderita preeklamsia berdasarkan paritas di Rumah Sakit Umum Dr. F.L. Tobing Sibolga Tahun 2007

No.

Paritas

Jumlah

Persentase

1.

Primigravida

30

96,78

2.

Scundigravida

1

3,22

Jumlah

31

100

Dari Tabel A.2 di atas diketahui bahwa kejadian preeklamsia mayoritas dijumpai pada paritas primigravida sebanyak 30 kasus (96,78%) dan minoritas ditemukan pada scundigravida sebanyak 1 kasus (3,22%).

Tabel A.3 : Distribusi penderita preeklamsia berdasarkan usia kehamilan di Rumah Sakit Umum Dr. F.L. Tobing Sibolga Tahun 2007

No.

Usia Kehamilan

Jumlah

Persentase

1.

Trimester I

27

87,10

2.

Trimester II

4

12,90

Jumlah

31

100

Dari Tabel A.3 di atas diketahui bahwa mayoritas terhadap kasus preeklamsia berdasarkan usia kehamilan yakni pada trimester I sebanyak 27 kasus (87,10%) dan minoritas pada trimester II sebanyak 4 kasus (12,90%).

B. Pembahasan

Dari hasil penelitian tentang gambaran preekalmsia ibu bersalin di Rumah Sakit Umum Dr. F.L. Tobing Sibolga Tahun 2007, maka pembahasannya adalah sebagai berikut :

1. Gambaran Kasus Preeklamsia Berdasarkan Umur Penderita di Rumah Sakit Umum Dr. F.L. Tobing Sibolga Tahun 2007

Dari tabel 1 dapat dilihat bahwa kasus preeklamsia berdasarkan umur di Rumah Sakit Umum Dr. F.L. Tobing Sibolga Tahun 2007 mayoritas terjadi pada umur 20-35 tahun sebanyak 27 kasus (87,10%) dan minoritas pada umur >35 tahun sebanyak 4 kasus (12,90%).

Menurut Noto Admojo (2003), umur adalah lama hidup dalam tahun dihitung sejak dilahirkan hingga saat ini. Umur merupakan periode penyesuaian terhadap pola-pola kehidupan baru dan harapan baru. Pada masa ini merupakan usia reproduktif, masa bermasalah, masa ketegangan emosi, masa kolerasinya sosial masa komitmen, masa ketergantungan, masa penyesuaian, masa kreatif pada masa dewasa ditandai adannya perubahan jasmani dan mental. Semakin bertambah umur seseorang, maka akan semakin tinggi keingintahuan kesehatan.

Menurut asumsi penulis, hasil penelitian dengan pernyataan Noto Admojo di atas, bahwa semakin tinggi umur yang dimiliki seseorang, maka pengetahuannya juga akan semakin baik. Hal ini dapat terlihat pada umur 35 tahun merupakan masa untuk berprestasi dalam pola hidupnya serta bagi mereka yang menekuni bidang pengetahuan sehingga mencapai kesuksesannya. Namun bukan berarti semakin tua umur di atas 50 tahun pengetahuan akan menjadi lebih baik. Hal ini berkaitan dengan kondisi manusia itu sendiri, dimana semakin tua sedikit demi sedikit akan berkurang ingantannya.

2. Gambaran Kasus Preeklamsia Berdasarkan Paritas

Dari tabel A.2 dapat dilihat bahwa kasus preeklamsia di Rumah Sakit Umum Dr. F.L. Tobing Sibolga mayoritas paritas ditemukan pada primigravida sebanyak 30 kasus (96,78%) dan minoritas pada cundigravida sebanyak 1 kasus (3,22%).

Menurut Taber (1994), preeklamsia merupakan gangguan terutama pada primigravida.

Menurut asumsi penulis, hasil penelitian ini sesuai dengan pernyataan Taber. Sebab dari hasil penelitian, preeklamsia mayoritas paritas ditemukan pada primigravida sebanyak 30 kasus (96,78%) dari 31 kasus preeklamsia di Rumah Sakit Umum Dr. F.L. Tobing Sibolga Tahun 2007.

3. Gambaran Kasus Preeklamsia Berdasarkan Usia Kehamilan

Berdasarkan dari tabel A.3 dapat dilihat bahwa kasus preeklamsia di Rumah Sakit Umum Dr. F.L. Tobing Sibolga Tahun 2007 mayoritas usia kehamilan pada trimester I sebanyak 27 kasus (87,10%) dan minoritas pada trimester II sebanyak 4 kasus (12,90%).

Preeklamsia adalah berkembangnya hipertensi dengan proteinuria atau edema, keduanya disebabkan oleh kehamilan. Biasanya keadaan ini timbul setelah umur kehamilan 20 minggu, tetapi dapat pula berkembang sebelum saat tersebut pada penyakit trofoblastik (Taber, 1995).

Menurut asumsi penulis, hasil penelitian dengan pernyataan Taber di atas ada perbedaan. Sebab, dari hasil penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Dr. F.L. Tobing Sibolga Tahun 2007 mayoritas preeklamsia terjadi pada usia kehamilan 0-12 minggu (trimester I). Sedangkan menurut pernyataan Tiber, kasus preeklamsia sering terjadi pada usia kehamilan 20 minggu (trimester II).

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Jumlah kasus preeklamsia di Rumah Sakit Umum Dr. F.L. Tobing Sibolga Tahun 2007 didapatkan 960 kasus penderita ginekologi dan angka kejadian preeklamsia sebanyak 31 kasus (3,23%).

2. Jumlah kasus preeklamsia berdasarkan umur penderita di Rumah Sakit Umum Dr. F.L. Tobing Sibolga Tahun 2007 mayoritas pada umur 20 – 35 tahun sebanyak 27 kasus (87,10%) dan minoritas pada usia >35 tahun sebanyak 4 kasus (12,90%).

3. Dari hasil penelitian, preeklamsia mayoritas paritas ditemukan pada primigravida sebanyak 30 kasus (96,78%), dan minoritas pada scundigravida 1 kasus (3,22%) dari 31 kasus preeklamsia di Rumah Sakit Umum Dr. F.L. Tobing Sibolga Tahun 2007.

4. Dari 31 kasus preeklamsia di Rumah Sakit Umum Dr. F.L. Tobing Sibolga Tahun 2007 berdasarkan usia kehamilan terdapat mayoritas usia kehamilan terdapat pada trimester I sebanyak 27 kasus (87,10%) dan minoritas pada trimester II sebanyak 4 (12,90%).

B. Saran

  1. Dianjurkan kepada wanita yang mempunyai faktor resiko untuk terjadinya preeklamsia terutama pada ibu bersalin pada usia antara 20-35 tahun agar lebih waspada dan selalu memeriksakan diri kepada tenaga ahli kesehatan secara teratur.
  2. Dianjurkan kepada petugas kesehatan untuk memberikan penyuluhan tentang preeklamsia.
  3. Kepada pihak Rumah Sakit Umum Dr. F.L. Tobing Sibolga agar lebih memperhatikan kelengkapan sistem pencatatan medical record sehingga data fokus yang diminta dalam penelitian ini seperti kasus preeklamsia dan riwayat kesehatan yang lalu dapat lebih lengkap dan jelas agar dapat menggambarkan kasus preeklamsia.



Satu Tanggapan to “KTI”

  1. kalu bisa KTI nya tentang penyakit yang sulit2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: