gambaran pengetahuan kepala keluarga (suami) tentang infertilitas


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Banyaknya pasangan infertil di Indonesia dapat diperhitungkan dan banyaknya wanita yang pernah kawin dan tidak mempunyai anak yang masih hidup. Ilmu kedokteran masa ini baru berhasil menolong 50% pasangan Intefil memperoleh anak yang dinginkannya itu berarti separuhnya lagi terpaksa mempenuhi hidup tanpa anak. Mengangkat anak (adaptasi), poligami atau bercerai (Sarwono, 2005).

Interfil adalah ketidakmampuan sepasang suami istri untuk memiliki keturunan dimana wanita belum mengalami kehamilan setelah bersenggama secara teratur 2 – 3 x 1 minggu tanpa memakai metode pencegahan selama 1 (satu) tahun (Anggrek, 2007).

Badan kesehatan dunia (WHO) memperkirakan sekitar 50-80 juta pasangan mengalami kesulitan mendapatkan keturunan. Masalah ketidak-suburan ini tentu menjadi masalah, tak hanya bagi pasangan usia subur mengalami masalah Infertilitas (Sedona, 2009), kenyataan menunjukan jumlah pasangan infertilitas yang diakibatkan oleh kelainan pada pria (laki-laki) sebanyak 40%. Pada wanita 40% dan 30% pada keduanya. Jadi pihak benar anggapan bahwa kaum wanita lebih bertanggung jawab terhadap kesulitan mendapatkan anak (Akmal 2008).

Berdasarkan data sensus penduduk terdapat 12% baik di desa maupun di kota, kira-kira 3 (tiga) juta pasangan intertil di seluruh Indonesia (Sarwono. 2005).

Berdasarkan survey yang dilakukan di Kelurahan Parombunan Kecamatan Sibolga selatan dari 60 KK (kepala keluarga) yang telah diteliti, sebanyak 66.6% kepala keluarga menyatakan bahwa penyebab infertilasi pada laki-laki lebih kecil dibandingkan wanita, namun hal ini merupakan anggapan yang keliru. Karena kemungkinan ketidak-suburan bisa datang dari suami, istri atau kedua belah pihak bersamaan. Keengganan pasangan (kebanyakan suami) untuk serta memeriksa diri akan lebih menyulitkan mencari apa penyebab dan bagaimana menentukan terapinya (Gatot, 2005).

Seperti sudah terbiasa, bila suatu pasangan infertil, maka kaum perempuan yang paling dicurigai. Bahkan langsung divonis sebagai penyebabnya dan diceraikan. Dampak lanjut dari situasi perceraian ini adalah pemberian label yang tidak menggunakan pada kaum perempuan, karena secara budaya konotasi “Janda” akibat perceraian. Hal ini semakin memojokan posisi perempuan dalam beberapa suku tradisional, sering kali kaum perempuan (istri) yang tidak mampu memberikan anak dianggap sebagai perempuan laknat dan harus dibuang  atau dikucilkan (Rahmad, 2002)……

 

~ oleh addy1571 pada Agustus 23, 2009.

Satu Tanggapan to “gambaran pengetahuan kepala keluarga (suami) tentang infertilitas”

  1. bg npa pengetahuan remaja putri tentang menarche tidak bisa di down load
    tolong jasi tau caranya donk bg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: