Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Tumbuh Kembang Anak Usia 0 Sampai 1 Tahun


Latar Belakang

Dalam pembangunan jangka panjang II (PJP II) dan Indonesia sehat 2010 masalah yang secara khusus adalah masalah pembinaan dan pengembangan anak, karena sasaran utamanya adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya sehingga perhatian khusus dicurahkan sejak dini, yaitu sejak masa anak-anak, bahkan sejak manusia berada dalam kandungan ibu, agar kualitas anak Indonesia sesuai dengan budaya bangsa yang menjiwai nilai-nilai luhur Pancasila (Soutjaningsih, 1998).

Hal ini dapat dicapai dengan ketekunan dan kesungguhan oleh semua sektor secara terpadu, sehingga dapat menjadi modal utama dalam mewujudkan kualitas manusia Indonesia yang produktif, maju, selaras seimbang, serasi, lahir dan batin (Soutjaningsih, 1998).

Untuk mewujudkan generasi penerus bangsa yang berkualitas faktor perkembangan anak juga mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Tumbuh kembang anak harus berjalan sejajar agar dapat menghasilkan manusia yang mandiri dan bertanggung jawab. Jika anak dirawat dengan baik, maka anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik pula sesuai dengan keinginan dan harapan. Akan tetapi bila tidak dirawat dengan baik maka anak tidak akan tumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya (Suherman, 2000).

Di Indonesia jumlah anak balita pada tahun 1991 mencapai 23,5 juta. Jumlah ini sangat besar dan butuh perhatian secara khusus, pada masa balita ini merupakan masa yang sangat menentukan dalam proses tumbuh kembang dan menjadi dasar terbentuknya manusia seutuhnya (Soutjaningsih, 1998).

Periode umur anak 0 sampai 1 tahun adalah masa rawan terhadap masalah gizi dan kekurangan vitamin. Pada umur ini anak sering terkena infeksi karena praktik pemberian makanan dan kontak yang lebih luas dengan dunia luar serta stress emosional dihubungkan dengan proses penyapihan (Supariasa, 2001).

Akan tetapi sebagian orang tua belum memahami hal ini, terutama orang tua yang mempunyai tingkat pendidikan dan sosial ekonomi yang relatif rendah. Mereka menganggap bahwa selama tidak sakit, anak tersebut tidak mengalami masalah kesehatan termasuk dalam hal pertumbuhan dan perkembangannya. Sering kali para orang tua mempunyai pemahaman bahwa pertumbuhan dan perkembangan mempunyai pengertian yang sama (Nursalam, 2005).

Proses tumbuh kembang merupakan proses yang berkesinambungan mulai dari konsepsi sampai dewasa yang mengikuti pola tertentu yang khas untuk setiap anak. Dimana terjadi proses interaksi terus menerus serta rumit antara faktor genetika dan faktor lingkungan, baik lingkungan sebelum anak dilahirkan maupun lingkungan setelah dilahirkan. Faktor lingkungan merupakan faktor yang paling besar dalam mempengaruhi tumbuh kembang (Soutjaningsih, 1998).

Faktor dominan yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan adalah status gizi bayi yang dilahirkan. Apabila setelah dilahirkan bayi mengalami kekurangan gizi dapat dipastikan pertumbuhan anak akan terlambat (Supariasa, 2001).

Di Negara yang sedang berkembang angka kesakitan dan angka kematian pada anak umur 0 sampai 1 tahun dipengaruhi oleh keadaan gizi. Pengaruh keadaan gizi pada umur ini lebih besar dari pada umur lebih dari 1 tahun. Dengan demikian angka kesakitan dan kematian pada periode ini dapat dijadikan informasi yang berguna mengenai keadaan kurang gizi di masyarakat (Supariasa, 2001).

Menurut Soutjaningsih, pada perkembangan anak usia 0 sampai 1 tahun adalah kemampuan berbahasa merupakan indikator seluruh perkembangan anak. Karena kemampuan berbahasa sensitif terhadap keterlambatan atau kerusakan pada sistim lainnya, sebab melibatkan kemampuan kognitif, sensori motor, pisikologi emosi dan lingkungan disekitar anak. Seorang anak tidak akan mampu berbicara tanpa dukungan dari lingkungannya mereka harus mendengar pembicaraan yang berkaitan dengan kehidupannya sehari-hari. Mereka harus belajar mengekspresikan dirinya, membagi pengalamannya dengan orang lain dan mengemukakan keinginannya.

Pada tahun 1995 sekitar 35,4% anak balita di Indonesia menderita kurang energi protein atau (KEP). Pada tahun 1997 berdasarkan pemantauan status gizi pada bayi, prevalensi kurang energi protein turun menjadi 23,1% akan tetapi pemberian atau pemenuhan vitamin A meningkat, hal ini disebabkan karena Indonesia mengalami krisis moneter yang berkepanjangan. Sementara prevalensi kurang energi protein di Sumatera Utara tercatat 40,4% sedangkan angka nasional sebesar 30,4% (Supariasa, 2001).

Menurut profil kesehatan Kabupaten Tapanuli Tengah 2004, gambaran status gizi bayi di Kabupaten Tapanuli Tengah tahun 2004 dari 39.510 bayi usia 0 sampai 1 tahun adalah prevalensi balita dengan gizi buruk sebanyak 1.906 (6,82%).

Dari hasil dari laporan puskesmas Tukka tercatat jumlah bayi 0 sampai 1 tahun sebanyak 60 orang. Menurut catatan puskesmas Tukka terdapat bahwa yang mengalami kurang energi protein sebanyak 5 orang. Hal ini disebabkan oleh kemiskinan, sanitasi lingkungan yang jelek serta kurangnya pengetahuan masyarakat tentang gizi, khususnya ibu rumah tangga yang mempunyai bayi usia 0 sampai 1 tahun.


 

~ oleh addy1571 pada April 4, 2009.

3 Tanggapan to “Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Tumbuh Kembang Anak Usia 0 Sampai 1 Tahun”

  1. tHaNkz latar balakangY,,,

    bisa kirim yg lengkap

  2. tHankS waT laTarbElakangNya,,,,,?????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: