Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Kebutuhan Bermain Pada Anak Usia Balita


Latar Belakang

Menurut hasil penelitian ilmiah yang menjadi kesepakatan internasional, usia dini itu 0-8 tahun. Tapi di Indonesia, berdasarkan UU No. 20/2003, usia dini adalah 0-6 tahun. Sedangkan usia 7-8 tahun sudah memasuki SD berarti anak TK usia 4-5 tahun masih termasuk anak usia dini (Vermuelen, 2007).

Dalam wawancara sebuah majalah beberapa waktu lalu, menegaskan tentang pengertian belajar pada anak usia dini. Menurut ia belajar pada anak usia dini bukan dalam arti kongkret tetapi melalui bermain karena bermain adalah satu-satunya sarana paling tepat untuk anak melakukan eksplorasi dunianya. Anak usia TK seharusnya jangan dulu dipaksakan belajar membaca, berhitung dan menulis, apalagi dengan adanya PR (Pekerjaan rumah) (Moleoeng, 1996).

Dalam kegiatan bermain, semua aspek kecerdasan anak terpancing untuk berkembang. Bermain pada hakikatnya merupakan pengalaman langsung yang efektif dilakukan anak usia dini dengan dan tanpa alat permainan. Bagi anak, ini merupakan yang menyenangkan, ia melakukan dengan senang hati dan suka rela. Ketika bermain, anak dengan spontan berekspresi, menemukan sendiri hal-hal yang sangat membanggakannya. Dengan bermain anak juga mengembangkan diri dalam berbagai perkembangan emosi, fisik dan intelektualnya (Dockeet, 1996).

Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita. Karena pada masa balita ini pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Pada masa balita ini perkembangan kemampuan berbahasa, kreativitas, kesadaran soail, emosional dan intelegensial berjalan dengan cepat dan merupakan landasan perkembangan berikutnya. Perkembangan moral serta dasar-dasar kepribadian juga dibentuk pada masa ini (Soetjiningsih, 1995).

Dalam perkembangan anak terdapat masa kritis, dimana diperlukan ransangan stimulasi yang berguna agar potensi perkembangan sehingga perlu mendapat perhatian perkembangan psiko-sosial sangat dipengaruhi ole lingkungan dan interaksi antara anak dengan orang tuanya/orang dewasa lain. Perkembangan anak akan optimal bila interaksi sosial diusahakan sesuai dengan kebutuhan anak pada berbagai tahap perkembangannya, bahkan sejak bayi masih dalam kandungan. Sedangkan lingkungan yang tidak mendukung akan menghambat perkembangan anak (Soetjiningsih, 1995).

Menurut survey yang diadakan di Desa Sipange, Kecamatan Tukka di dapat keluarga yang mempunyai anak balita sebanyak 50 keluarga, dan di desa Sipange, anak-anak banyak yang tidak terpenuhi kebutuhan bermainnya.Hal ini disebabkan mayoritas penduduk Sipange adalah bertani, dan di Desa Sipange tidak ada sekolah taman kanak-kanak (TK) dan play group dan akhirnya banyak keluarga yang membawa anak-anak ke tempat bekerjanya (sawah atau kebun) dan anak baru pulang bersama orang tuanya ke rumah menjelang sore.

~ oleh addy1571 pada April 4, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: