Oleh: addy1571 | Agustus 23, 2009

Gambaran Pengetahuan Kepala Keluarga Tentang Katarak

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Katarak merupakan masalah nasional yang perlu ditanggulangi. katarak dapat menyebabkan penurunan aktivitas dimana katarak merupakan penyebab umum kehilangan pandangan secara bertahap. Berdasarkan peneletian tahun 1989-1999, lebih dari separuh (54%) kebutuhan disebabkan katarak (Bougman, 2000).

Katarak merupakan kelainan mata yang terjadi akibat adanya perubahan lensa yang jernih dan tembus cahaya, sehingga keruh. Akibatnya   mengalami gangguan penglihatan karena obyek menjadi kabur. Ganguan penglihatan yang terjadi tidak secara spontan. Melainkan secara perlahan dan dapat menimbulkan kebutaan. Meski tidak menular, namun katarak dapat terjadi di kedua mata secara bersama (Rahmi, 2008).

Menurut data organisasi kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO) dapat 50 juta kebutaan di dunia akibat katarak dan yang paling banyak adalah mereka yang tinggal di negara miskin dan berkembang yaitu Asia dan Afrika. Penduduk yang tinggal dinegara berkembanag beresiko 10 kali lipat mengalami kebutaan dibandingkan  penduduk negara maju. Sedangkan menurut Institute Kesehatan Nasional atau National Institute of Health (NIH) di negara maju seperti Amerika Serikat terdapat 4 juta orang beresiko menjadi buta karena proses kemunduran mascular (titik kuning retina) yang berhubungan dengan faktor usia sehingga pada akhirnya menyebabkan kebutaan, sebagai perbandingan di Banglades angka kebutaan mencapai 1%, di India 0,1 -0,3%.

Tingkat kebutaan yang diakibatkan katarak di Indonesia merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara, yaitu sebesar 1,5% sedangkan dalam catatan WHO, tingkat kebutaan di Indonesia berada diurutan ketiga di dunia yaitu sebesar 1,47%. Tingginya katarak di Indonesia dipengaruhi oleh letak geografis yang berada di daerah garis khatulistiwa sehingga berdasarkan penelitan menilai resiko 15 tahun lebih cepat terkena katarak dibanding penduduk di Eropa (Rahmi,2008).

Katarak tidak dapat dicegah kecuali pada kebutaannya yaitu dengan tindakan  operasi. Katarak merupakan penyakit degenaratif namun saat ini katarak juga telah ditemukan pada usia muda (35-40 tahun). Selama ini katarak dijumpai pada orang yang berusia diatas 55 tahun sehingga sering diremehkan kaum muda. Hal ini disebabkan kurangnya asupan Gizi dan nutrisi yang dibutuhkan tubuh (Irawan, 2008).

Kebutaan yang terjadi akibat katarak akan terus meningkat karena penderita katarak tidak menyadarinya, daya penglihatan baru terpengaruh setalah katarak berkembang sekitar 3-5 tahun dan menyadari penyakitnya setelah memasuki stadium kritis. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan mengenai gejala katarak. Salah satu penyebab tingginya kasus kebutaan yang diakibatkan oleh katarak karena kurangnya perhatian masyarakat terhadap kesehatan mata.

Dari data yang diperoleh dipoliklinik mata RSU Dr. F.L Tobing Sibolga pada tahun 2008/2009 penderita katarak berjumlah 72 orang, yang telah dioperasi berjumlah 27 orang sedangkan yang tidak dioperasi 45 orang dikarenakan oleh faktor ekonomi (RSU F.L Tobing Sibolga)

Berdasarkan hasil survey yang didapatkan dari dokumentasi dan arsip Lurah Aek Manis Sibolga bahwa jumlah KK 1139 dan yang menderita katarak 34 orang (Profil Kelurahan Aek Manis, 2009).

Dari uraian diatas penulis tertarik untuk mengetahui “Bagaimana Gambaran Pengetahuaan Kepala Keluarga Tentang Katarak Di Kelurahan Aek Manis Kota Sibolga tahun 2009 “

 

Oleh: addy1571 | Agustus 23, 2009

Karakteristik ibu dengan abortus inkompletus

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tingginya AKI menurut Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1997 yaitu 334/100.000 kelahiran hidup. Mengingat masih tinggi AKI maka pada tanggal 12 Oktober 2003 pemerintah telah mencanangkan Gerakan Nasional kehamilan yang aman atau Making Pragnancy Safer (MPS) sebagai strategi pembangunan kesehatan masyarakat menuju Indonesia Sehat 2010 dan menetapkan target dengan menurunkan AKI menjadi 125/100.000 kelahiran hidup di tahun 2010 (Saefudin, 2001).

Penyebab kematian ibu di Indonesia adalah perdarahan (30%), infeksi (12%), eklampsi (25%), abortus (5%), partus lama (5%), emboli obstetri (3%), komplikasi masa nifas (8%) dan penyebab lainnya (12%). Perdarahan yang menyebabkan kematian ibu yang sekarang banyak ditemui adalah abortus. Menurut SDKI tahun 1997 menunjukkan bahwa wanita berstatus menikah melakukan abortus masih tinggi berkisar 9,2% dengan alasan tidak menginginkan anak lagi atau untuk menjarangkan kehamilan, tetapi tidak menggunakan alat kontrasepsi (Depkes RI, 2001).

Keguguran/abortus merupakan masalah kesehatan yang terjadi pada ibu hamil juga pada janin di dalam kandungan dimana usia kehamilan kurang dari 22 minggu atau berat badan janin 1000 gr dan abortus ini bisa terjadi karena kondisi ibu yang lemah, kehamilan yang tidak diinginkan dan kehamilan di luar nikah. Keguguran atau abortus sering terjadi adalah abortus inkompletus, dimana janin yang dikandungnya sudah keluar sebagian dan sebagian lagi tinggal di dalam rahim. Bila keguguran ini terjadi harus segera ditangani untuk mengatasi perdarahan yang banyak yang dapat menyebabkan kematian pada ibu (Manuaba, 1998).

Pada tahun 2000, WHO memperkirakan 2/3 kehamilan di dunia merupakan kehamilan yang tidak diinginkan yaitu sekitar 50 juta per tahun. Sebanyak 60% mendapat pertolongan yang aman dan 40% mendapat pertolongan tidak aman. Hal ini menyumbangkan AKI 15-20% diperkirakan sekitar 700.000 wanita/ibu meninggal per tahun akibat abortus tak aman, yaitu 1 diantara 10 kehamilan atau 1 diantara 7 kelahiran. 90% terjadi di negara berkembang yang merupakan 15 kali angka kematian dibanding di negara maju (Affandi, 2008).

Di Indonesia diperkirakan sekitar 2-2,5% mengalami keguguran setiap tahun sehingga secara nyata dapat menurunkan angka kelahiran menjadi 1,7 per tahunnya (Manuaba, 2001).

Berdasarkan kutipan Syahrianti tahun 2004 mahasiswi Politeknik Kesehatan Medan Program Studi Kebidanan Pematang Siantar yang dikemukakan oleh Siegler dan Eastman, Insidenabortus secara umum berkisar 10% dari seluruh kehamilan. Demikian juga di Rumah Sakit Pirngadi Medan tahun 2003, prevalensi abortus meningkat sesuai dengan usia ibu 12% pada usia 20 tahun dan 50% pada usia 45 tahun dan 80% dari abortus terjadi pada bulan ke 2-3 kehamilan menurut Eastman dan 76% menurut Simens (Syahrianti, 2004).

Berdasarkan survei awal yang dilakukan peneliti di Rumah Sakit Dr. F.L. Tobing Sibolga, peneliti memperoleh data terjadi peningkatan abortus inkompletus dari tahun ke tahun. Pada tahun 2006 ada sebanyak 30 kasus dari 228 persalinan, tahun 2007 ada sebanyak 38 kasus dari 208 persalinan.

Melihat masih tingginya angka abortus inkompletus, maka penulis termotivasi melakukan penelitian tentang “Karakteristik ibu dengan abortus inkompletus di RSU. Dr. F. L. Tobing Sibolga Tahun 2008”.

 

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan daerah tropis sehingga sering terjadi biang keringat (Miliaria) khususnya pada bayi berusia kurang dari  6  bulan. Karena cuaca yang panas sangat berpengaruh untuk terjadinya biang keringat (miliaria). Bayi baru lahir akan dibedong untuk menjaga kehangatan tubuhnya agar tidak terjadi hipotermi sekitar 34,14% bayi terkena biang keringat (milaria) akibat pembedongan, pembedongan pada bayi akan memberi efek hangat tetapi bila cuaca panas dapat menyebabkan biang keringat. Keadan inilah yang sering menyebabkan biang keringat (miliaria). Milaria dapat terjadi pada bayi-bayi prematur  pada minggu pertama pasca persalinan disebabkan oleh sel-sel pada bayi yang belum sempurna sehingga terjadi sumbatan pada kelenjar kulit dan mengakibatkan retensi keringat, biang keringat terjadi sekitar 40% pada bayi baru lahir (FKUI, 2005).

Pori-pori sejati pada bayi berfungsi sebagai sistem kerja kelenjar keringat dimana pada bayi yang fungsinya belum sempurna sehingga bila bayi kepanasan akan menimbulkan biang keringat. Keringat bayi yang keluar terkumpul dibawah kulit, kemudian akan muncul bintik-bintik merah dan akan menimbulkan rasa gatal, terutama di daerah paha dan bagian tubuh yang tertutup. Bayi yang mengalami biang keringat menjadi rewel akibat rasa gatal dan orang tua biasanya mengeluh karena pola tidur bayinya terganggu seperti gelisah, tidak nyeyak dan lainnya (FKUI, 1999).

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization, 2006) melaporkan tiap tahun terdapat 80% penderita biang keringat (miliaria), diantaranya 65% terjadi pada bayi. Berdasarkan harian Kompas Jakarta 15 Desember 2008 melaporkan 49,6% penduduk Indonesia Beresiko terkena biang keringat (miliaria). Sebagian besar sering terjadi pada bayi terutama di kota-kota besar yang panas dan pengap. Profil Kesehatan Sumatera Utara Tahun 2008 menyebutkan  jumlah bayi yaitu 6.350 dan menderita miliaria (biang keringat) sebanyak 3413 (34,13%) bayi. Prevalensi penyakit kulit di Indonesia cukup tinggi baik oleh bakteri virus dan jamur, tergantung pada lingkungan dan kondisi setiap individu.

Berdasarkan survey pendahulun yang dilakukan di Puskesmas Aek Habil periode Januari – Mei 2009 dari 108  ibu yang memiliki bayi. Ditemukan 33 (3,3%) bayi yang menderita biang keringat (miliaria).

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Gambaran pengetahuan ibu tentang biang keringat (Miliaria) pada bayi di Kelurahan Aek Manis Kecamatan Sibolga Selatan Tahun 2009”.

 

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Artritis Rheumatoid (reumatik) merupakan suatu penyakit yang tersebar luas serta melibatkan semua kelompok, ras dan etnik di dunia. Penyakit ini merupakan suatu penyakit autoimun (penurunan daya tahan tubuh) yang ditandai dengan infeksi membran otot yang walaupun terutama mengenai jaringan persendian, seringkali juga melibatkan organ tubuh lainnya. Sebagian besar penderita menunjukkan gejala penyakit kronik yang hilang timbul, yang jika tidak diobati akan menyebabkan terjadinya kerusakan persendian dan deformitas (kelainan bentuk) sendi yang progesif (memburuk) yang menyebabkan hilangnya kemampuan untuk berfungsi secara normal bahkan kematian dini. Walaupun faktor genetik, hormon sex, infeksi dan umur telah diketahui berpengaruh kuat dalam menentukan pola perbandingan penyakit ini namun hingga kini penyebab Artritis Rheumatoid yang sebenarnya tetap belum dapat diketahui dengan pasti (Syahrul, 2007).

Menurut kesepakatan para ahli di bidang rematologi, Artritis rheumatod dapat terungkap sebagai keluhan atau tanda. Dari kesepakatan, dinyatakan ada tiga keluhan utama pada sistem muskuloskeletal yaitu nyeri, kekakuan (rasa kaku) dan kelemahan,serta adanya tiga tanda utama yaitu : pembengkakan sendi, kelemahan otot, dan gangguan gerak (Soenarto, 1982).

Artritis Rheumatoid dapat terjadi pada semua umur dari kanak-kanak sampai usia lanjut, atau sebagai kelanjutan sebelum usia lanjut dan gangguan reumatik akan meningkat dengan meningkatnya umur. Namun penelitian tentang penyakit Artritis Rheumatoid ini banyak memfokuskan pada kemungkinan bahwa penyakit ini merupakan hasil dari infeksi oleh organisme yang tidak diketahui, berlangsung secara genetik pada host (individu) yang rentan (Felson, 1993, Soenarto, dan Wardoyo, 1994).

Reumatik dapat menyebabkan perubahan otot, hingga fungsinya  dapat menurun bila otot pada bagian yang menderita tidak dilatih guna mengaktifkan fungsi otot. Artritis Rheumatoid lebih sering dijumpai pada wanita dari pada pria dengan perbandingan sebesar 3 : 1, Namun kejadian ini belum dapat dipastikan sebagai penyebab (Mansjoer Arif, 2001).

Menurut sensus penduduk pada tahun 1980, di indonesia terdapat 16,3 juta orang (11%) yang berusia 50 tahun ke atas. Pada tahun 2000 diperkirakan jumlah penderita artritis reumatoid meningkat menjadi 9,99% dari seluruh penduduk indonesia(22.277.700 jiwa) dengan umur harapan hidup 65-70 tahun (Sensus, 2008)

Secara statistik tercatat lebih dari 10 % dari populasi penduduk dunia terkena rheumatoid. Di Indonesia, kasus rheumatoid artritis pada usia di atas 18 tahun diperkirakan 0,1 sampai 0,3 persen dari jumlah penduduk. Sedangkan pada anak dan remaja di bawah 18 tahun sekitar 1 banding 100.000 orang, umgkap Presiden Rheumatology Association of ASEAN di Jakarta (Isbagio, 2006)

Berdasarkan survei pendahuluan yang dilakukan di Kelurahan Pancuran Pinang Kecamatan Sibolga Sambas Tahun 2009 terdapat jumlah keluarga sebanyak 1.138 keluarga dan Dinas Kesehatan mencatat jumlah anggota keluarga yang menderita penyakit Artritis Rheumatoid di Kelurahan Pancuran Pinang Kecamatan Sibolga Sambas Tahun 2008 berjumlah 53 orang (Dinkes Sibolga, 2009).

Mengingat Artritis Rheumatoid merupakan salah satu penyakit yang sering terjadi pada keluarga di Sibolga terutama di Kelurahan Pancuran Pinang Kecamatan Sibolga Sambas Tahun 2009, sehingga peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana gambaran pengetahuan keluarga tentang penyakit Artritis Rheumatoid di Kelurahan Pancuran Pinang Kecamatan Sibolga Sambas Tahun 2009.

 

Oleh: addy1571 | Agustus 23, 2009

Gambaran kasus Bayi Baru Lahir dengan Asfiksia

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Angka kematian bayi (AKB) merupakan salah satu indikator sosial yang sangat penting untuk mengukur keberhasilan program pemberantasan kematian bayi dan untuk melihat status kesehatan ibu dan anak (Kosim. M, 2003).

Di seluruh dunia, 4 juta bayi meninggal pada tahun pertama yang disebabkan komplikasi BBLR. Kurang lebih 99% kematian ini dapat dicegah dengan pengenalan dini/deteksi dini dan pengobatan tepat pada antenatal (Leonardo, 2008).

Berdasarkan organisasi kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa sekitar 23% seluruh kematian neonatus disebabkan oleh asfiksia neonatorum dengan proporsi lahir mati yang lebih besar. Asfiksia neonatorum merupakan penyebab ketiga kematian setelah prematur dan infeksi (Arixs, 2006).

Indonesia pada saat ini masih menghadapi berbagai kendala dalam pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) khususnya dalam bidang kesehatan. Hal ini tampak dari masih tingginya angka kematian neonatal. Menurut data Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT), menyebutkan penyebab kematian bayi baru lahir di Indonesia, salah satunya asfiksia (27%) yang merupakan penyebab ke-2 kematian bayi baru lahir setelah BBLR. Berdasarkan penelitian di Kota Cirebon yang dilakukan oleh Ella tahun 2004-2005 di Puskesmas, bahwa dari 44.000 kelahiran hidup setiap tahunnya, 500 bayi (2,1%) diantaranya mengalami kematian neonatal dan sebanyak 260 (28,8% kematian tersebut diakibatkan oleh asfiksia (Depkes, 2004). Sama halnya dengan Sumatera Utara, angka kematian bayi 166.500 dan yang menderita Asfiksia sebanyak 43.956 bayi (26,4%) (Dinkes Medan, 2008).

Kematian neonatal dini lebih banyak disebabkan secara intrinsik dengan kesehatan ibu dan perawatan yang diterima sebelum, selama dan setelah persalinan. Demikian halnya dengan asfiksia neonatorum pada umumnya disebabkan oleh manajamen persalinan yang tidak sesuai dengan standar dan kurangnya kesadaran ibu untuk memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan. Kurangnya asupan kalori dan nutrisi pada saat masa kehamilan juga dapat mengakibatkan terjadinya asfiksia. Hampir tiga per empat dari semua kematian bayi baru lahir dapat dicegah apabila ibu mendapatkan nutrisi yang cukup, pelayanan antenatal yang berkualitas, asuhan persalinan normal dan pelayanan kesehatan neonatal oleh tenaga kesehatan yang profesional (Leonardo, 2008).

Angka kematian bayi baru lahir yang diakibatkan oleh asfiksia masih tinggi, oleh karena itu asfiksia memerlukan intervensi dan tindakan resusitasi segera setelah lahir untuk meminimalkan mortalitas dan morbiditas. Di negara maju ataupun negara berkembang tersedia sarana resusitasi dasar dan tenaga kesehatan yang kurang terampil melakukan resusitasi bayi. Padahal resusitasi dasar yang efektif dapat mencegah kematian bayi baru lahir dengan asfiksia sampai 3/4-nya (Wayan, 2006).

Di Indonesia dilakukan berbagai upaya dalam menurunkan angka kematian BBL diakibatkan asfiksia salah satunya dengan cara melakukan suatu pelatihan keterampilan resusitasi kepada para tenaga kesehatan agar lebih terampil dalam melakukan resusitasi dan menganjurkan kepada masyarakat ataupun ibu khususnya, agar setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan yang memiliki kemampuan dan keterampilan (Dinkes Medan, 2008).

Berdasarkan survey pendahuluan dari Medical Record RSU. Dr. F. L. Tobing Sibolga tahun 2008, bayi baru lahir dengan asfiksia sebanyak 130 bayi (22,76%) dari 571 persalinan spontan maupun sectio Caecarea dan sebanyak 30 bayi (23,1%) yang meninggal diakibatkan asfiksia berat terutama pada bayi yang lahir prematur.

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka penulis tertarik untuk mengetahui “Gambaran kasus Bayi  Baru Lahir dengan Asfiksia di RSU.Dr. F.L. Tobing Sibolga Tahun 2008”.

 

BAB I

PENDAHULUAN

A. Pendahuluan

Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia telah terjadi penuruan yang berarti, namun demikian angka kematian bayi (AKB) masih merupakan angka tertinggi di negara ASEAN lainnya. Wolrd Health Organization (WHO) dan United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF) memperkenalkan 1 (satu) set pedoman terpadu yang menjelaskan secara rinci penanganan penyakit-penyakit melalui pendekatan Making Pregnancy Safer (MPS) yang memiliki 3 pesan kunci, yaitu : semua persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih, semua komplikasi obstetri mendapat askes pencegahan dan penatalaksanaan kehamilan yang tidak diinginkan dan aborsi yang tidak aman. Oleh karena itu, Departemen Kesehatan bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia mengembangkan suatu paket pelatihan untuk melatih tenaga kesehatan tentang proses Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM) yang menguraikan cara perawatan bayi sakit yang datang berobat ke fasilitas kesehatan baik kunjungan pertama maupun kunjungan ulang (Depkes RI, 1999).

Dengan adanya pelatihan MTBM, maka disepakati beberapa perubahan yaitu masukknya kelompok umur 1 hari – 2 bulan yang memberikan pelayanan yang berkualitas dan juga memberikan kontribusi cukup besar dalam mencegah terjadinya kematian bayi karena pneumonia, diare, malaria, campak, dan malnutrisi serta gangguan perinatal/neonatal (Dinkes Propinsi Sumatera Utara, 2006).

Dalam perkembangannya, pedoman ini diperluas sehingga mencakup Menajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM) umur 1 hari sampai 2 bulan, baik dalam keadaan sehat maupun sakit. Penanganan bayi muda umur kurang dari 2 bulan diutamakan pelaksanaannya karena bayi muda rentan terhadap penyakit, karena kekebalan tubuh atau daya tahan imun masih rendah sehingga penyakit cepat menjadi parah, serius, bahkan meninggal, terutama pada 1 minggu pertama kehidupan bayi (Depkes RI, 2006).

Penerapan MTBM diperlukan satu pemahaman dan komitmen pada bidan yang berkualitas serta memberikan bimbingan teknis baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga penanganan tepat pada gejala bayi muda bisa lebih cepat (Depkes Prop. Sumut, 2006).

Di Provinsi Sumatera Utara tahun 2006 cakupan sebesar 71% tenaga kesehatan yang sudah dilatih guna menerapkan Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM). Namun dalam pelaksanaannya masih belum semua tenaga kesehatan menerapkan manajemen tersebut pada setiap bayi yang datang berobat (Dinkes Propinsi Sumut, 2006).

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Sibolga tahun 2008, cakupan neonatus sebesar 62% tenaga kesehatan yang sudah dilatih tentang Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM), namun hanya 28% yang menerapkan dengan baik khususnya di bidan praktek swasta (Dinkes Kota Sibolga).

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Gambaran pengetahuan Bidan Tentang Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM) di Bidan Praktek Swasta Kota Sibolga Tahun 2009”.

Oleh: addy1571 | Agustus 23, 2009

Gambaran Pengetahuan Klien Tentang Gastritis

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Untuk dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, banyak hal yang perlu diperhatikan. Salah satu diantaranya yang dipandang mempunyai peranan penting ialah menyelenggarakan pelayanan kesehatan.

Penyakit Gastritis yang dikenal dengan Gastritis saluran pencernaan bagian atas yang banyak dikeluhkan masyarakat dan paling banyak dibagian gastroenterologi (Mustakim, 2009). Menurut Herlan (2001), menyatakan Gastritis bukanlah penyakit tunggal, tetapi beberapa kondisi yang mengacu pada peradangan lambung. Biasanya peradangan tersebut merupakan akibat dari infeksi bakteri yang dapat mengakibatkan borok lambung yaitu Helicobacter Pylory.

Keluhan Gastritis merupakan suatu keadaan yang sering dan banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Tidak jarang kita jumpai penderita Gastritis kronis selama bertahun-tahun pindah dari satu dokter ke dokter yang lain untuk mengobati keluhan Gastritis tersebut. Berbagai obat-obatan penekan asam lambung sudah pernah diminum seperti antasid, namun keluhan selalu datang silih berganti. Keluhan yang berkepanjangan dalam menyembuhkan Gastritis ini dapat menimbulkan stress, gara-gara Gastritis sekitar 10% dan biaya yang tidak sedikit. Bagi stress ini bukan tidak mungkin justru menambah berat Gastritis penderita yang sudah ada (Budiana, 2006).

Budiana (2006), mengatakan bahwa Gastritis ini terbesar di seluruh dunia dan bahkan diperkirakan diderita lebih dari 1,7 milyar. Pada negara yang sedang berkembang infeksi diperoleh pada usia dini dan pada negara maju sebagian besar dijumpai pada usia tua.

Angka kejadian infeksi Gastritis Helicobacter Pylory pada beberapa daerah di Indonesia menunjukkan data yang cukup tinggi. Menurut Maulidiyah dan Unun (2006), di Kota Surabaya angka kejadian Gastritis sebesar 31,2%, Denpasar 46%, sedangkan di Medan angka kejadian infeksi cukup tinggi sebesar 91,6%. Adanya penemuan infeksi Helicobacter Pylory ini mungkin berdampak pada tingginya kejadian Gastritis. Faktor etiologi Gastritis lainnya adalah asupan alkohol berlebihan (20%), merokok (5%), makanan berbumbu (15%), obat-obatan (18%) dan terapi radiasi (2%) (Herlan, 2001).

Dari hasil penelitian para pakar, didapatkan jumlah penderita Gastritis antara pria dan wanita, ternyata Gastritis lebih banyak pada wanita dan dapat menyerang sejak usia dewasa muda hingga lanjut usia. Di Inggris 6-20% menderita Gastritis pada usia 55 tahun dengan prevelensi 22% insiden total untuk segala umur pada tahun 1988 adalah 16 kasus/1000 pada kelompok umur 45-64 tahun. Insiden sepanjang usia untuk Gastritis adalah 10% (Harun Riyanto, 2008).

Berdasarkan hasil survey awal dilokasi penelitian yaitu di RSU. Dr. F.L. Tobing Sibolga tahun 2008 ditemukan rata-rata perbulannya penderita Gastritis yang berobat selama tahun 2008 masih cukup banyak yaitu setiap bulannya ± 40 orang (Profil RSU. Dr. F.L. Tobing Sibolga, 2008).

Dari latar belakang di atas maka penulis merasa tertarik untuk penelitian dengan judul “Gambaran Pengetahuan Klien Tentang Gastritis di RSU. Dr. Fl. Tobing Sibolga Tahun 2009”.

 

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Salah satu indikator kesehatan Indonesia suatu bangsa ialah derajat kesehatan anak, yang biasa diukur melalui angka kematian anak, cermin dunia kedokteran kali ini menyoroti berbagai masalah kesehatan anak dari berbagai aspek, masalah diare tentu menjadi fokus utama, disamping penyakit-penyakit lain seperti pneumonia, campak, malaria dan malnutrisi. Oleh sebab itu gejala penyakit dan cara penanganannya perlu dikenali. Penanganan juga bukan hanya membantu penyembuhan, namun juga dapat mencegah timbulnya komplikasi lebih jauh (Depkes RI, 1997).

Berbagai faktor mempengaruhi kejadian diare, diantaranya adalah faktor lingkungan, gizi, kependudukan, pendidikan, keadaan sosial ekonomi dan perilaku masyarakat (Depkes RI, 1994).

Di Inggris 1 dari 5 orang menderita diare infeksi setiap tahunnya dari 1 sampai 6 orang pasien yang berobat ke praktek umum menderita diare infeksi. Tingginya kejadian diare di negara barat ini oleh karena foodborn infections dan waterborn infections. Diare infeksi di negara berkembang menyebabkan kematian sekitar 3 juta penduduk setiap tahun. Di Afrika anak-anak terserang diare infeksi 7 kali setiap tahunnya dibanding di negara berkembang lainnya mengalami serangan diare 3 kali setiap tahunnya (diare akut) (WHO, 2002).

Di negara berkembang kebanyakan disebabkan oleh lima hal, atau kombinasi dari mereka yaitu : Pnumonia, diare, campak, malaria dan malnutrisi. Di seluruh dunia 3 dari 4 anak yang pergi ke sentral pengobatan penderita setidaknya satu dari kondisi di atas. Banyak dari kematian ini dapat dicegah dengan manajemen kesehatan yang lebih baik (WHO, 1997). Diare adalah penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak dengan perkiraan 1,3 milyar dan 3,2 kematian tiap tahun pada balita. Keseluruhan anak-anak mengalami rata-rata 3,3 diare per tahun. Tetapi di beberapa tempat dapat lebih dari 9 per tahun. Penyebab utama kematian karena diare adalah dehidrasi sebagai akibat kehilangan cairan dan elektrolit melalui tinjanya (Hendarwanto, 2003)

Di Indonesia setiap anak mengalami diare 1,6 – 2 kali setahun. Hasil dari SKRT (Survei Kesehatan Rumah Tangga) di Indonesia angka kematian diare anak balita dan bayi per mil per tahun berturut-turut menunjukkan angka sebagai berikut : 6,6 (anak balita) 22 (bayi) pertahun 1980; 3,7 (bayi) pada tahun 1992 ; 1 (anak balita) dan 8 (bayi) pada tahun 1995. Menurut Departemen Kesehatan di 8 propinsi pada tahun 1989, 1990 dan 1995 berturut-turut morbiditas diare menunjukkan 78,5%, 103% dan 100%. Apalagi dengan terjadinya krisis ekonomi yang melanda di negara-negara Asia dimana Indonesia yang terparah, angka kejadian diare menunjukkan kenaikan. Bahkan gangguan kesehatan maupun penyakit yang terkait dengan diare seperti gangguan gizi dan ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) (Depkes RI, 1999).

Provinsi Sumatera Utara mencatat penderita diare pada tahun 2005 sebanyak 168.072 orang. 11 Kabpuaten/Kota dinyatakan Kejadian Luar Biasa diare pada tahun 2005 dengan 926 kasus, dan angka kematian 25 orang termasuk di Kota Sibolga. Penderita terbanyak pada tahun 2005 terdapat di Kota Medan dengan jumlah 38.012 orang (Depkes RI, 2005).

Sibolga merupakan daerah yang rentan terserang penyakit menular antara lain diare. Dinas Kesehatan Kota Sibolga mencatat sebanyak 212 pasien diare selama tahun 2007. Dan pada tahun 2008 jumlah pasien diare pada balita 167 orang dan tahun 2009 pada Bulan Januari sampai Maret jumlah pasien diare pada balita berjumlah 62 orang. Data tersebut berdasarkan tersebut berdasarkan pendataan di RSU. dr. F. L. Tobing Sibolga dan puskesmas yang menyebar di Kota Sibolga (Dinkes Sibolga, 2007-2008)

Berdasarkan hal tersebut dengan berbagai masalah dan penyebab terjadinya diare, maka peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian yaitu tentang “Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Diare pada Balita di RSU.  Tahun 2009”.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kanker paru merupakan salah satu penyakit ganas yang semakin makin meningkat di dunia dan biasanya timbul pada usia enam puluhan. Polusi udara, khususnya akibat merokok merupakan faktor penyebab. Orang yang beresiko tinggi adalah semua orang yang merokok lebih dari 20 tahun dan berumur di atas 50 tahun. Jika sudah ada tanda atau gejala dari penyakit ini maka 75% sudah tidak dapat sembuh lagi dan dari penderita yang sudah didiagnosis, ketahanan hidup satu tahun mencapai 20% dan ketahanan hidup lima tahun kurang dari 10% (Hidayat, 2004).

Kebiasaan merokok merupakan perilaku tidak sehat dan dapat menggerogoti paru-paru serta dapat menyebabkan 25 jenis penyakit mematikan, mulai dari kanker paru-paru, serangan jantung, asma, sampai impotensi serta gangguan kehamilan dan janin. Namun anehnya, jumlah diperkirakan akan terus meningkat dari 1,6 milliar perokok dan akan terus meningkat menjadi 1,26 milliar perokok dan menjadi 1,26 milliar perokok tahun 2030.

Dampak merokok adalah kanker paru, jantung, stoke, impoten yang akan memmatikan dan berbahaya bagi kesehatan perokok maupun di sekitar perokok baik pria maupun wanita dan terlebih-lebih bagi janin. Dimana kanker paru itu berasal dari sel-sel di dalam paru-paru tetapi bisa juga dari kanker di bagian tubuh lain yang meyebar ke paru-paru yang disebabkan oleh rokok yang telah dihisap, jumlah penderita kanker paru yang dirawat di RSUP persahabatan meningkat 74% dalam 4 tahun kanker dari 408 psien di tahun 2004 menjadi 709 di tahun 2005 (Dr. Faisal Yenes, 2008).

Banyak peneliti telah membuktikan juga bahwa adanya hubungan merokok dengan penyakit koroner dan stroke, dari 11 juta kematian pertahun di negara industri maju, WHO melaporkan lebih dari setengah (6 juta) disebabkan ganguan sirkulasi darah. Dimana 2,5 juta adalah penyakit jantung koroner dan1,5 juta adalah stroke. Menurut yang dilakukan WHO menunjukkan bahwa WHO itu telah terbukti merupakan dampak yang buruk pada kesehatan seksual yang dapat menimbulkan resiko disfungsi ereksi yang berlanjut ke impotensi terutama pada remaja. Dimana lebih dari 1300 laki-laki perokok dibanding dengan usia yang tidak merokok mengalami disfungsi ereksi dan 8000 pria juga yang berusia 16-59 tahun didapati bahwa pria yang merokok kurang sebungkus sehari akan mengalami resiko peningkatan problem ereksi sebesar 24% (Gades dan Stiven, 2008).

World Health Organization (WHO) telah melaporkan secara statistik antara kebiasaan merokok merupakan faktor yang berpengaruh dalam hubungan terjadinya kanker paru. Jumlah batang yang dihisap setiap hari, dalamnya hisapan, lamanya kebiasaan melibatkan hampir 200.000 pria berusia 50-60 tahun yang diteliti selama 44 bulan didapatkan bahwa angka kematian yang tidak merokok per 100.000 orang adalah 3,4% pria yang tidak merokok, 59,3% pria yang merokok antara 10-20 batang sehari, dan 217,3% diantara mereka yang  merokok 40 batang atau lebih dalam sehari (Elisna, 2000).

WHO di tahun 1996 juga menyatakan bahwa telah dengan berkembang sekitar 50-60% pria yang merokok, sementara perokok wanita hanyalah dibawah 10%, sementara itu di negara-negara maju sekitar 30% pria dan wanita yang punya kebiasaan merokok. Di kalangan pria mulai menyebar luas pada masa perang dunia I antara tahun 1914-1918 dan mencapai puncaknya dipertengahan tahun 1970-an sedangkan kaum wanita-nya mulai merokok sejak masa perang dunia II sekitar tahun 1935 -1945 dan jumlahnya terus meningkat (Aditma, 2004).

America Cancer Society memperkirakan bahwa terdapat 1.500.000 kasus baru dalam tahun 1987 dan 136.000 meninggal Prevalensi Kanker paru di negara maju sangat tinggi, USA di tahun 1993 dilaporkan 173.000 orang dan di Inggris 40.000 orang (Elisna, 2000).

Indonesia menduduki peringkat 4 kanker terbanyak. Di RS Kanker Dhamis Jakarta Tahun 1998 tumor paru menduduki urutan ke-3 sesudah kanker payudara dan leher rahim. Dan sebagian besar kanker paru mengenai pria (65%) life time risk 1 : 13 dan para wanita 1 : 20. Pada pria lebih besar prevalensinya disebabkan faktor merokok yang lebih banyak pada pria. Inseiden puncak kanker paru terjadi antara usia 55-65 tahun.

Berdasarkan data dari RSU Dr. F.L. Tobing Sibolga pada tahun 2008 bahwa yang menderita kanker paru sebanyak 3 orang dan begitu juga data yang didapat di Kelurahan Aek Manis Sibolga pada tahun 2009 bahwa yang menderita kanker paru sebanyak 2 orang. Dan survei Depkes RI tahun 1986 dan 1992 mendapatkan peningkatan kematian juga akibat penyakit jantung dari 9,7% (peringkat ketiga) menjadi 1,6% (peringkat pertama) (G. Sianturi, 2003).

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

Kulit merupakan lapisan jaringan yang terdapat pada bagian luar dari permukaan tubuh (Anatomi Fisiologi, Syaifuddin, Edisi 2).

Selain itu keadaan kulit juga merupakan cermin kesehatan tubuh seseorang. Pada saat sekarang ini para orang tua belum menyadari bahwa menjaga kesehatan kulit pada balita sama pentingnya dengan menjaga kesehatan kulit pada orang dewasa. Dan untuk menjaga kesehatan kulit ini diperlukan perawatan rutin sejak usia dini. Perawatan rutin kulit juga menunjukkan rasa cinta seorang ibu pada buah hatinya, karena sentuhan ibu sangat berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan si anak (Boediardja, 2004).

Salah satu permasalahan yang sering dihadapi oleh para ibu dalam mendidik dan merawat balita adalah perawatan kulitnya. Kulit balita masih sangat sensitif, sehingga balita seringkali menderita penyakit infeksi kulit, seperti miliaria (Nakita, 2005).

Penyakit kulit yang sering terjadi pada anak adalah miliaria. Pada umumnya miliaria sering terjadi di daerah punggung, dahi, leher, bahu, dada, lipatan-lipatan kulit serta bagian tubuh yang berambut. Dan juga diperkirakan sekitar 80% penderita miliaria terjadi pada anak dibawah umur 5 tahun (Sugito, 2007).

Miliaria sering tidak diperdulikan oleh banyak orang karena tidak berbahaya. Miliaria dalam bahasa awam sering dikenal dengan sebutan biang keringat adalah salah satu gangguan pada kulit akibat keringat berlebihan disertai sumbatan saluran kelenjar keringat berupa bintik-intik merah yang timbul pada sekujur tubuh yang mengakibatkan rasa gatal dan panas, sehingga merangsang penderita untuk menggaruknya kuat-kuat. Namun bahayanya jika tempat yang gatal itu digaruk akan menimbulkan iritasi dan luka sampai meradang menjadi bisul akibat infeksi bakteri dan jamur. Miliaria juga merupakan respon terhadap udara yang lembab, faktor pakaian, bahan baju yang tidak menyerap peluh (Elandari, 2003).

Miliaria juga menyerang anak-anak di beberapa negara, seperti Eropa dan Amerika Serikat. Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat pada tahun 1977-1982 terdapat 102.500 penderita miliaria yang dijumpai sepanjang tahun dengan puncaknya di akhir musim panas. Berbeda dengan hasil survei penelitian di Arab Saudi pada tahun 1986 ditemukan 61% dari 756 penderita miliaria yang terjadi pada bayi dan balita (Mustakim, 2006).

Dari data kunjungan bayi dan anak pada 7 rumah sakit di 6 kota besar di Indonesia terdapat 282 kasus (22,79%) dari 8919 kasus anak menderita penyakit kulit miliaria. Miliaria menempati urutan ke-7 dari 10 penyakit kulit bayi dan balita. Insiden penyakit kulit miliaria ini akan meningkat sampai 50% pada iklim panas dan lembab. Di bagian Ilmu Kesehatan Anak (IKA) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) terdapat 15% yang menderita penyakit kulit miliaria yang berobat ke Poliklinik Ilmu Kesehatan Anak (Boediardja, 2003).

Morbiditas penyakit kulit miliaria Subbagian Kulit Anak FKUI/RSUPN Tahun 2002 pada usia 0-1 tahun, laki-laki 17 orang dan perempuan 15 orang; usia 1-4 tahun laki-laki 19 orang dan perempuan 15 orang, usia 5-14 tahun laki-laki 12 orang dan perempuan 3 orang (Boediardja, 2002).

Dari hasil survey yang penulis lakukan di Dinas Kesehatan Sibolga, tercatat 683 jumlah balita yang menderita Miliaria pada tahun 2008, sedangkan dari Puskesmas Aek Habil Sibolga tercatat 142 orang yang menderita penyakit kulit Miliaria pada tahun 2008.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan angka kesakitan (morbilitas) dan angka kematian (mortalitas) adalah dengan memberikan pelayanan kesehatan yang efektif pada masyarakat atau penderita miliaria. Dalam melaksanakan upaya tersebut diperlukan sumber daya manusia yang mempunyai kemampuan untuk memberikan pelayanan yang berkualitas yaitu dengan memberikan penyuluhan tentang kesehatan kepada masyarakat. Sehingga pengetahuan yang dimiliki masyarakat diharapkan dapat mempengaruhi perilaku masyarakat terhadap kesehatan.

Pengetahuan masyarakat tentang kesehatan sangat mempengaruhi prilaku atau tindakan masyarakat dalam masalah kesehatan, khususnya dalam penyakit kulit seperti miliaria, maka akan lebih mengerti tentang penanganan atau perawatan yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, penulis tertarik untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Miliaria Pada Balita di Puskesmas Aek Habil Sibolga Tahun 2009.


« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.