Oleh: addy1571 | Mei 18, 2009

Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Susu Formula Pada Bayi


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Air susu ibu adalah merupakan makanan yang terbaik bagi bayi dan juga sebagai zat pelindung yang dapat mencegah terjadinya penyakit infeksi pada bayi, karena kandungan ASI sesuai untuk masa pertumbuhan dan perkembangan bayi. ASI mengandung sel darah putih, anti bodi, hormon serta zat yang dapat membunuh bakteri dan virus, sehingga angka kesakitan dan angka kematian bayi berkurang, karena ASI dapat mencegah reaksi alergi dan asma. ASI mempunyai suhu yang sesuai dan ASI lebih mudah disiapkan dan lebih mudah dicerna (Roesli, 2000).

Berdasarkan rekomendasi dari WHO dan UNICEF di Geneva pada tahun 1979 menyusui merupakan bagian terpadu dari proses reproduksi yang memberikan makanan bayi secara ideal dan alamiah serta merupakan dasar biologik dan psikologik yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan. Dengan alasan apapun susu formula harus dihindarkan karena susu formula mudah terkontaminasi oleh kuman dan dalam pemberian susu formula harus disesuaikan dengan takaran susu dan umur bayi. Apabila takaran susu tidak sesuai maka mengakibatkan diare  (Sarwono, 1999).

Bayi yang diberi susu susu formula mengalami kesakitan diare 10 kali lebih banyak yang menyebabkan angka kematian bayi juga 10 kali lebih banyak, infeksi usus karena bakteri dan jamur 4 kali lipat lebih banyak, sariawan mulut karena jamur 6 kali lebih banyak. Penelitian di Jakarta memperlihatkan persentase kegemukan atau obesitas terjadi pada bayi yang mengkonsumsi susu formula sebesar 3,4% dan kerugian lain menurunnya tingkat kekebalan terhadap asma dan alergi (Dwinda, 2006).

Menurut Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) (2003), angka kematian bayi di Indonesia sebesar 35/1000 kelahiran hidup. Angka kesakitan dan angka kematian bayi ditimbulkan salah satunya disebabkan dari dampak susu formula tersebut.

Menurut profil Dinkes Sumut 2005, pemberian ASI Eksklusif di             9 kabupaten Sumatera Utara yang tidak memberikan ASI eksklusif, Asahan 90%, Tanjung Balai 84%, Tobasa 81%, Tapsel 68,5%, Sibolga 68%, Taput 58,5%, Tapteng 46%, dan Labuhan Batu 39%.

Tidak semua bayi dapat menikmati ASI secara eksklusif dari ibu, hal ini dikarenakan oleh berbagai keadaan tertentu misalnya, keluarga ibu yang memutuskan untuk tidak menyusui bayi karena adanya suatu penyakit, misalnya: tuberculosis (TBC), atau Acuired Immunodeficiency Syndrom (AIDS). Dengan keadaan tersebut cara lain untuk memenuhi kebutuhan gizi pada bayi adalah dengan memberikan susu formula sebagai Pengganti Air Susu Ibu (PASI) (Roesli, 2000).

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Cohen dan kawan-kawan di Amerika pada tahun 1995 diperoleh bahwa 25% ibu-ibu yang memberikan ASI secara eksklusif pada bayi dan 75% ibu-ibu yang memberikan susu formula pada bayi. Bayi yang mendapatkan ASI secara eksklusif lebih jarang terserang penyakit dibandingkan dengan bayi yang memperoleh susu formula, karena susu formula memerlukan alat-alat yang bersih dan perhitungan takaran susu yang tepat sesuai dengan umur bayi. Hal ini membutuhkan pengetahuan ibu yang cukup tentang dampak pemberian susu formula (Roesli, 2000).

Angka kejadian dan kematian akibat diare pada anak-anak di negara-negara berkembang masih tinggi, lebih-lebih pada anak yang sedang mendapat susu formula dibandingkan dengan anak yang mendapat ASI. Meningkatnya penggunaan susu formula dapat menimbulkan barbagai masalah, misalnya kekurangan kalori protein tipe marasmus, moniliasis pada mulut, dan diare karena infeksi (Soetjiningsih, 1997).

Di Indonesia masih banyak ibu-ibu yang tidak memberikan ASI secara eksklusif pada bayi, karena kaum ibu lebih suka memberikan susu formula dari pada memberikan ASI. Hal ini disebabkan oleh pekerjaan ibu, penyakit ibu serta ibu-ibu yang beranggapan bahwa apabila ibu menyusui maka payudaranya tidak indah lagi sehingga suami tidak sayang (Soetjiningsih,1997).

Presentasi kaum ibu-ibu yang berada di pedesaan yang memberikan ASI pada bayinya sebesar 80-90% sampai bayi berumur lebih dari 1 tahun. Tetapi dengan adanya iklan dan sumber informasi tentang susu formula maka kecendrungan masyarakat untuk meniru gaya hidup modern. Di Jakarta lebih dari 50% bayi yang berumur 2 bulan telah mendapat susu formula karena pada awalnya calon ibu tidak diberikan penjelasan dan penyuluhan tentang pemberian ASI eksklusif (Soetjiningsih, 1997).

Berdasarkan profil kesehatan Kecamatan Sibolga Sambas tahun 2008 menunjukkan bahwa 54 bayi dinyatakan 32 bayi mendapatkan susu formula. Sedangkan dari hasil tersebut menunjukkan bahwa masih ada ibu-ibu di Kecamatan Sibolga Sambas yang memberikan susu formula kepada bayi.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Dampak Pemberian Susu Formula pada Bayi 0-6 Bulan di Lingkungan III Kelurahan Pancuran Dewa Kecamatan Sibolga Sambas Tahun 2008”.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, 2002,  “Prosedur Penelitian “, Jakarta.

Barbara R. Stright, 2004, “Keperawatan Ibu- Bayi lahir “, Jakarta.

Babok. Lowder Milk, Jensen, 2004,”Keperawatan Maternitas”, EGC.

Deddy Muchtadi, MS, 1996, “Gizi untuk Bayi”, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.

Diah Krisnatuti, Rina Yenrina, 2000, “Menyediakan Makanan Pendamping ASI”, Puspa Swara.

Dinas Kesehatan Sumatera Utara, 2005, Profil Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara, Dinkes, Sumatera Utara

Helen Varney, Jan.M. Riebs, Borolyn L. Gegor, 2000, “Buku Saku Kebidanan”, EGC, Jakarta.

Hendarawan Nadesul, 2004, “Makanan Sehat Untuk Bayi”,Puspa Swara.

Hubertin Sri Purwadi, 2004, “Konsep Penerapan ASI Eksklusif”, EGC, Jakarta.

Sarwono, 2005, “Ilmu Kebidanan”, EGC, Jakarta.

Shelov, SP, 2005, “Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak”, Salemba Medika, Jakarta.

Soetjaningsih,1995. “Tumbuh Kembang Anak”. Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Suharyono, dkk, 1992, “ASI”, edisi kedua FK-UI.

Syahniien Moehji, 1994, “Ilmu Gizi”, Jakarta.

Utami Roesli, 2000 “ASI EkskIusif”, Seri Pertama, Jakarta.

www.Suara_Pembaruan.com/dwinda/22/2/2006.

 


Responses

  1. mkasiiih yaa..ini bs tak jdiin acuan bwt skripsi sy d penelitian trdahulu..tp kl blh tw ini yg nyusun KTInya namanya spa, fakultas apa dll…disini tdk dcantumkan..tlg bgt dtambahi ato sy dkasih tw…mkasiih byk sblmnyaa… :)

  2. ank saya gk mw susu formula.klu gk diare psti muntah.gmn cara agar babyq bz mw ma susu formula?cz aq kudu kuliah and kerja?

    • maaf ibu, anak ibu umur berapa ?, kalau masih dibawah 5.6 – 6 bulan, sebelum ibu berangkat kerja dan kuliah, ibu bisa mengeluarkan ASI dan ditempatkan di wadah (botol susu, dll), kemudian simpan di dalam kulkas (mengenai lamanya waktu ASI boleh disimpan coba ibu cari referensinya). Cara lain juga bisa dilakukan yakni : air tajin (air sebelum menjadi nasi). Kalau belum berhasil juga, coba ibu konsultasikan ke dokter spesialis anak. Tapi kalau anak ibu sudah berumur lebih dari 6 bulan, ibu bisa memberikan makanan tambahan seperti biskuit seperti milna, dll (dicampur dengan sedikit air panas). Mungkin hanya itu yang bisa saya. semoga bermanfaat. :)

  3. mas dftar pustakanya ko” g” ditampilkan juga….
    mana y?

  4. mbak tolong di lengkapi lagi pada tinjauan pustakanya tentang dampak pustakanya lebih luas.. thx

  5. sudah baik mas…materi yang di sajikan tapi sayangnya daftar pustaka mana yang bisa sebagai sumber

  6. tkhs dah bantu gw untuk ngelengkapi skripsi gw ya….

    • Terima kasih kembali….. :)

  7. LENGKAPI DONK daftar pustakanya…

    • Terima kasih kembali. Kami akan coba lengkapi dengan daftar pustakanya. Memang hanya sebangian yang saya cantumkan daftar pustakanya. :)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: